Namun sayangnya, Liga yang ditunggu-tunggu masyarakat Aceh khususnya Sabang ini, diperlihatkan oleh dua kesebelasan pantai selatan Aceh, bermain hanya untuk menjaga posisi masing-masing agar tidak tergeser dari posisi aman. Sehingga permainannya pun terlihat terkesan sengaja mengatur jumlah gol bola masuk gawang kedua kesebelasan.
“Ini lah salah satu penyebab sepak bola Aceh tidak maju-maju, karena ada pihak club yang takut kalah dan bermain sabun. Ini sangat tidak profesional dan memalukan dunia sepakbola Aceh. Terima komite disiplin PSSI Aceh yang begitu tegas dalam mengambil langkah menjalankan tugasnya demi olahraga Aceh,” kata salah seorang warga Sabang, Minggu (02/02/2025) yang namanya enggan dipublis. (R)














