example banner

oleh

Antara Peluh dan Kubangan Lumpur

example banner

example banner

Laporan | Syawaluddin

PAGI itu, langit diatas Kampung Blang Kandis dan Batang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Terlihat begitu bersahabat. Teriknya sengatan matahari membakar tubuh-tubuh lusuh bercampur bubur lumpur menggerutu.

Satu, Dua, Tigaaaaaa…, tarikkk…kepulan asap dari Dump Truck yang mengerang, ditarik puluhan manusia itu tak bergerak. Ban-nya tertancap dikubangan lumpur menahun.

Tapi ada yang menarik perhatian, diantara penarik Dump Truck itu ada seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Daerah Pemilihan 7 (Kota Langsa dan Aceh Tamiang) Nora Idah Nita; begitu namanya. Dia dari Partai Demokrat.

Nora disebut-sebut sebagai Srikandi Aceh Tamiang, sebab banyak berjuang di Provinsi Pemerintah Aceh, untuk kemajuan pembangunan yang berkesinambungan di Bumi Muda Sedia—sebutan Kabupaten Aceh Tamiang—pagi menjelang siang itu, Nora mengenakan Gaun Merah berstrip motif Aceh, khas Gayo. Dibalut Jilbab warna Pink dan sepatu karet Boat (Pacok) hijau, begitu bersemangat.

“Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan upaya bapak-bapak yang membawa komiditi setempat, dengan sepeda motor jatuh bangun dikubangan lumpur, untuk menjual hasil kebun mereka ke kota,” jelasnya singkat.

Sudah puluhan tahun warga didua kampung—Batang Ara dan Blang Kandir—ini belum pernah menikmati jalan bagus, setiap musim penghujan bergelut dengan kubangan lumpur dan debu saat musim kemarau.

Kedatangan Nora dan Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang, Muhammad Nur didua kampung itu, untuk menyerap berbagai keluhan yang dirasakan selama ini.

Terutama itu, terkait masalah infrastruktur menjadi agenda utama kedatangannya. Apalagi kondisinya sangat jelek dan butuh perhatian khusus.

Kubangan lumpur dijalan dua Kampung—Blang Kandis dan Batang Ara—dapat memutuskan akses yang menghubungkan antar kampung antar kecamatan.

“Sayang mereka, saya janji akan mempresure Pemerintah Aceh, untuk mencurahkan perhatian bagi kepentingan rakyat Aceh Tamiang. Sepulang dari Tamiang, saya akan menjumpai Gubernur Nova, menjelaskan kepada beliau tentang kondisi infrastruktur jalan penghubung antar kampung antar kecamatan di Aceh Tamiang,” janji Nora.

Potret jalan tembus antar kampung di Aceh Tamiang menggambarkan jeleknya pembangunan infrastruktur terkait jalan penghubung.

Keluhan itu dirasakan oleh Datok Penghulu (kepala desa) Kampung Blang Kandis, Heryanto dan warga, bahwa; puluhan tahun sudah mereka tidak pernah menikmati jalan yang baik.

Lelah, kata Heryanto, sebab jalan menuju kampung mereka, layaknya jalan kesawah. Yang menjadi masalah lagi, saat ada orang sakit, tidak tahu harus dibawa dengan apa.

Sebab jika memakai mobil sudah dipastikan tidak bisa, “Sepeda Motor saja susah, bagaimana lagi dengan memakai mobil. Ini masalah besar dan sangat urgent,” jelasnya.

Kedatangan, Nora dan Muhammad Nur, memang diminta oleh masyarakat yang ada didua kampung—Blang Kandis dan Batang Ara. Kedatangan itu digunakan sebaik-baiknya untuk menyampaikan keluhan mereka.

Pernah ada salah seorang warga yang mau melahirkan, karena tidak bisa dibawa oleh mobil, terpaksa dilarikan dengan sepeda motor. Cerita itu menjadi kenangan yang sangat pahit diderita masyarakat kampung Blang Kandis.

Katanya, tahun 2021 ini pemerintah Aceh Tamiang akan lakukan pengerasan jalan dari Kampung Batang Ara menuju Blang Kandis. Tapi masih katanya, begitu Heryanto memaparkan.

Apa yang dirasakan oleh masyarakat Kampung Blang Kandis, diakui Nora. Dia fokus akan mengupayakan jalan tersebut secepatnya bisa dibangun.

“Saya akui, kondisi mereka sangat memprihatinkan, seyogianya pemerintah Aceh Tamiang segera membangun jalan itu dengan memakai dana tanggap darurat sebab itu masalah urgent dan bukan main-main,” jelasnya.

Jika tidak segera dibangun, dapat dipastikan akses diwilayah itu, total terputus. “Ini menjadi pemikiran yang sangat serius oleh Pemerintah Aceh Tamiang,”.

Disela kunjungan tersebut, Nora membantu dana tanggap darurat sementara, begitu juga Muhammad Nur kepada Kampung Blang Kandis dan Batang Ara, yang diserahkan langsung kepada masing-masing Datok Penghulu.

Banyak gawean Nora yang sudah berhasil, untuk mendorong pembangunan di Kabupaten ujung timur Aceh. Diantaranya Multi Years Contrat, jalan tembus Kaloy-Lesten, serta pemberdayaan kaum ibu untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Peluh itu memang belum mengering, namun; saat melihat ekonomi masyarakat Aceh Tamiang pada umumnya tak bergeming, kering disapu kepuasan bathin, meski secarik lumpur bersimbah cita menjadi bukti kerja para wakil. Aminnn. (*)

 

 

 

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA..