Dalam perjalanannya, FPRMI Aceh berkembang menjadi ruang komunikasi dan konsolidasi antar pimpinan media untuk membahas berbagai persoalan pers, mulai dari profesionalisme, tantangan bisnis media digital, hingga penguatan kualitas jurnalistik di daerah.
Menurut Muktaruddin, kepengurusan baru memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Di tengah perubahan besar industri media, FPRMI membutuhkan figur yang mampu mengonsolidasikan para anggota sekaligus menghadirkan gagasan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Saya kira semua orang mengenal sosok Kanda Muhammad Saleh. Rekam jejaknya panjang, mulai dari aktivis mahasiswa, kemudian berkarier sebagai jurnalis di berbagai media lokal di Aceh hingga media nasional di Jakarta. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk membawa organisasi ini semakin maju,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Saleh mengaku amanah yang diberikan para peserta Musda merupakan tanggung jawab besar yang harus dijalankan bersama seluruh anggota. Langkah pertama yang akan dilakukannya adalah menyusun struktur kepengurusan agar organisasi dapat segera bekerja dan menjalankan berbagai program.
Ia menegaskan, FPRMI tidak boleh hanya menjadi organisasi tempat berhimpunnya para pimpinan redaksi, tetapi juga harus menjadi pusat pemikiran dan gagasan bagi pembangunan Aceh.




