Ngopi di Atas Tebing Sabang, Menemukan Senja dan Tenang di Cup of Journey

Selasa, 28 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SABANG (MA) — Sabang tak pernah kehabisan cara untuk memikat para pelancong. Jika selama ini kota paling barat Indonesia itu dikenal lewat pantai-pantai jernih, laut biru, dan gugusan pulau kecil yang eksotis, kini ada satu pengalaman lain yang diam-diam mencuri perhatian: menikmati secangkir kopi dari atas tebing sambil memandang luasnya Selat Malaka.

Pengalaman itu bisa ditemukan di Cup of Journey, sebuah kedai sederhana yang berdiri tenang di tepian Pulau Weh. Berjarak sekitar 10 menit dari pusat Kota Sabang, tempat ini bukan sekadar lokasi untuk singgah, melainkan ruang untuk benar-benar berhenti dari segala riuh.

Begitu tiba, pandangan langsung disambut hamparan laut yang seolah tak berujung. Dari ketinggian tebing, birunya Selat Malaka terlihat begitu lapang, menyatu dengan langit terbuka yang bersih. Di kejauhan, siluet Pulau Klah berdiri samar namun tegas, menjadi garis pemisah yang indah antara laut dan cakrawala.

BACA JUGA...  Pemkab Aceh Jaya Nilai Teuku Asrizal Salah Kaprah Menilai Listrik Gratis

Sesekali kapal melintas perlahan, meninggalkan jejak putih di permukaan air. Pemandangan itu sederhana, tetapi justru di situlah letak pesonanya: tidak ramai, tidak berisik, hanya laut, angin, dan waktu yang berjalan lebih pelan.

Cup of Journey menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan di destinasi wisata lain—suasana. Angin laut bertiup lembut, suara ombak terdengar samar dari bawah tebing, sementara ruang terbuka yang lapang membuat siapa pun merasa lebih lega. Banyak pengunjung datang bukan untuk terburu-buru memesan lalu pergi, melainkan untuk duduk lebih lama, berbincang santai, membaca, atau sekadar menikmati diam.

Di tempat ini, secangkir kopi seolah menjadi alasan untuk memberi jeda pada diri sendiri.

Humaira menilai, kehadiran Cup of Journey menunjukkan wajah baru pariwisata Sabang yang tak lagi hanya menjual panorama, tetapi juga pengalaman emosional.

BACA JUGA...  Bangun Kota Sabang, Wali Kota Ajak Semua Pihak Menjaga BPKS

“Wisatawan sekarang mencari tempat yang bukan hanya indah dilihat, tapi juga nyaman dirasakan. Di sini ada ketenangan itu,” ujarnya.

Tak hanya pemandangan, sajian minuman di kedai ini juga menjadi pelengkap yang pas. Kopi susu racikan rumah menjadi salah satu menu favorit, menghadirkan rasa lembut dengan komposisi yang seimbang. Bagi yang tidak menyukai kopi, tersedia pula berbagai pilihan minuman ringan yang tetap cocok dinikmati sambil menatap laut lepas.

Desain Cup of Journey sendiri dibuat sederhana tanpa banyak ornamen berlebihan. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terasa hangat dan akrab. Setiap sudut tampak estetik, dengan kursi-kursi yang menghadap langsung ke laut, menjadikannya spot favorit wisatawan untuk mengabadikan momen.

BACA JUGA...  Kejayaan Kesultanan Aceh pada Abad ke-16: Puncak Kekuasaan Politik, Ekonomi, dan Budaya di Asia Tenggara

Menjelang sore, kedai ini berubah menjadi salah satu titik terbaik menikmati senja di Sabang. Matahari perlahan turun di ufuk barat, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut, menciptakan nuansa hangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Banyak pengunjung memilih tetap tinggal hingga langit berubah jingga, karena momen itu terasa terlalu sayang untuk dilewatkan.

Cup of Journey membuktikan bahwa menikmati Sabang tak selalu harus dengan agenda yang padat atau aktivitas yang ramai. Kadang, perjalanan justru terasa paling utuh ketika seseorang duduk tenang, menyeruput kopi hangat, mendengar desir angin, dan memandangi laut yang luas tanpa tergesa.

Di tempat ini, Sabang hadir bukan sebagai destinasi yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai ruang yang mengajak siapa saja untuk memperlambat langkah—lalu menikmati hidup sedikit lebih dalam. (Adv)

Berita Terkait

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang
Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman
Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh
Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas
Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh
Si Dalupa, Teater Bertopeng Aceh Barat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman
Menjaga Gegedem Tetap Bertalu, Merawat Ingatan Budaya Tanah Gayo
Rapai Geurimpheng, Seni Tradisi Aceh yang Menyatukan Bunyi, Gerak dan Syair

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:17 WIB

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:06 WIB

Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:01 WIB

Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:57 WIB

Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:53 WIB

Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh

Berita Terbaru

Penampakan seekor buaya sungai di tebing Krueng Kluet/Kandang yang sempat direkam warga, Minggu, (13/9/2026).(Poto/mediaaceh.co.id/istimewa).

PERISTIWA

Buaya Muncul, Warga Resah

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:43 WIB

Bupati Aceh Barat Tarmizi saat membesuk orang dalam gangguan jiwa di daerahnya.

PEMERINTAHAN

Tarmizi: Tidak ada Satu Pun Masyarakat di Pasung 

Minggu, 13 Sep 2026 - 16:10 WIB

Foto : Ilustrasi AI

PERISTIWA

Diving di Iboih, Wisatawan Malaysia Hilang Belum Ditemukan

Minggu, 13 Sep 2026 - 14:34 WIB

Jubir Pemkab Aceh Utara Tgk. Muntasir Ramli.

PEMERINTAHAN

Terkait Biaya Pesta Rakyat, Begini Kata Jubir Pemkab Aceh Utara 

Minggu, 13 Sep 2026 - 12:05 WIB

Cover: Ilustrasi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas.

TAJUK

Migas; Mencari Cadangan, Menghadapi Risiko

Sabtu, 12 Sep 2026 - 22:12 WIB