Nab Bahany AS: Aceh Melayu Jawa Hindu

Rabu, 23 Maret 2016

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Aceh masa lalu. [acehglobal.wordpress.com]
Ilustrasi Aceh masa lalu. [acehglobal.wordpress.com]

Banda Aceh|AP-Aceh dulu sering disebut-sebut makmur, jaya dan dikenal bangsa luar, namun sayang tanda-tanda itu mulai tak berbekas. Bergerak dari itu, Budayawan Aceh Nab Bahany As menilai Aceh perlu membangun istana miniatur di Kota Banda Aceh untuk mengenal jejak budaya Aceh masa lalu.

“Sebagai upaya memunculkan (peradaban) kembali apakah dalam bentuk replika atau disediakan lokasi khusus seperti miniatur dan menggambar kan kondisi yang sesungguhnya,” saran Nab Bahany AS dalam diskusi cagar budaya sejarah di aula DPRK Banda Aceh, Selasa 22 Maret 2016.

Kata Nab Bahany AS, saat ini masyarakat Aceh kesulitan menggambarkan kondisi Aceh ketika berada di puncak peradabannya.

“Kita sulit untuk membuktikan jejak sejarah Aceh yang sesungguhnya, khusus nya di Kota Banda Aceh,” ujarnya.

BACA JUGA...  Mengembalikan Sejarah ke Tengah Masyarakat Gayo, Musara Alun Siap Jadi Lokasi HUT RI 81

Kisahnya, Aceh dibangun dengan latar belakang orang Melayu dan dan berbeda dengan peradaban di pulau Jawa yang dibangun dengan latar belakang Hindu.

“Latar belakang peradaban Melayu dapat kita lihat di bidang pendidikan kan atau ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Lebih lanjut Mantan Kepala Meseum Aceh Drs Nurdin AR menambahkan, Kota Banda Aceh hampir tidak ada ruang yang dapat digolongkan kedalam peradaban cagar budaya bila diukur melalui UU Nomor 10 Tahun 2010 baik di darat atau di laut.

“Semakin banyak bangunan kuno semakin bagus untuk diselamatkan karena itu mengandung sejarah, pentingnya cagar budaya dalam merelalisasi cagar budaya sejarah Aceh adalah kota yang sangat tua di jagat raya ini,” katanya Nurdin.

BACA JUGA...  Penilaian Rapor KPK Semestinya Mengacu pada Data dan Informasi yang Valid

Kisah pertumpahan darah di sekitar Mesjid Raya Baiturrahman, kuburan bersejarah dan lainnya harus kita rawat.

“Kita tidak tahu bagaimana bentuknya dan dimana sejarah makamnya, yang kita tahu kuburannya dibawa tsunami,” nilainya.

Selain itu ujarnya, Kampung Bidhun adalah asal kata dari biduan, kuburan Syiah Kuala, kuburan Sultan Aceh Mansursyah, Taman Putro Phang di buat oleh Sultan Iskandar Muda.

“Makanya dinamakan Kampong Geuchue karena dihapus dari peta, di Banda Aceh nantinya akan dibuat tempat cagar budaya sejarah yg di sebut Banda Aceh Kota Madani yg historis dengan sejarah, oleh karena itu walikota sebagai tuan tanah menurut bapak Muzakir Manaf (Wakil Gubernur A)ceh harus sangat memperhatikan masalah cagar budaya ini. Qanun disusun oleh DPRK dan ganun itu dibuat untuk merelisasi pelestarian cagar budaya,” ujarnya.

BACA JUGA...  Calon Kandidat Ketua Kadin Aceh Wajib Setor 1 Miliar, Cek Mada: Jika Ragu Jangan Ikut

Selain itu sebut Nurdin, Jamalrullah adalah putra Sultan Walhasin makam nya ada di sekitar Kampung Pande, diwai bekas makam bidhun Sultan Mansyur syah dan beliau dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Sedangkan Peunayong kata Nurdin adalah kampung yang dilindungi oleh Sultan Iskandar Muda, asrama tentara tertua di Banda Aceh ini adalah asrama keraton (asrama militer).

“Dan Krueng Aceh akan dan memang harus dihidupkan sebagai transportasi air di ibukota Aceh, Banda Aceh,” saran Nurdin.

Dalam diskusi sejarah budaya itu turut hadir para narasumber berkelas lainnya seperti Tagiyuddin Muhammad,Lc dan Dr. Husaini Ibrahim,MA. [BNC]

Berita Terkait

Ketua Umum SPS: AI Harus Jadi Pengungkit Bisnis Pers
Purbaya Mulai Mengimbangi Perhatian Publik terhadap Prabowo
Ngobras Bersama Kadiv Humas Polri, Isir: Percayalah, Masih Banyak Polisi Baik
Berkas Perkara PT GRS Dilimpahkan ke PN Serang
PWI Siap Gelar HPN 2027, Buka Ruang bagi Seluruh Konstituen Dewan Pers
Ketua PWNU Jawa Barat Dukung Komjen Pol Karyoto Jadi Kapolri
Ayah Wa: Pers Harus Tetap Dekat dengan Rakyat demi Demokrasi yang Kuat
Terima Pemred Award 2026, Nasir Djamil: Pers Harus Kembali Menjadi Suara Rakyat

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 11:10 WIB

Ketua Umum SPS: AI Harus Jadi Pengungkit Bisnis Pers

Selasa, 22 September 2026 - 18:30 WIB

Purbaya Mulai Mengimbangi Perhatian Publik terhadap Prabowo

Kamis, 10 September 2026 - 14:44 WIB

Ngobras Bersama Kadiv Humas Polri, Isir: Percayalah, Masih Banyak Polisi Baik

Sabtu, 5 September 2026 - 13:44 WIB

Berkas Perkara PT GRS Dilimpahkan ke PN Serang

Jumat, 4 September 2026 - 16:51 WIB

PWI Siap Gelar HPN 2027, Buka Ruang bagi Seluruh Konstituen Dewan Pers

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Bakal Calon Ketua PWI Aceh Muhammad Saman Lolos Verifikasi SC

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:14 WIB

Wakil Bupati Asel H. Baital Mukadis bersama Dandim 0207/Asel Andrino Lubis memberikan motivasi kepada petugas agar penanganan longsor lebih cepat dan sempurna.(Foto/mediaaceh.co.id/istimewa).

PEMERINTAHAN

Longsor Teratasi, Jalur Menggamat – Kota Fajar Lancar 

Minggu, 25 Okt 2026 - 22:09 WIB