Badiuzzaman, S.Sos, Kabid Bina Peribadatan dan Urusan Haji (BPUH) Dinas Syariat Islam Kota Lhokseumawe, Sahlan Sekretaris Umum POBSI Aceh serta Pelda Fernando Manik, Ba TI Gakkum Denpom IM/1, mewakili POM Dam Iskandar Muda.
Piala juara diserahkan langsung oleh Badiuzzaman, simbol pengakuan bahwa biliar bisa berdampingan dengan nilai-nilai etika dan religiusitas masyarakat Aceh, selama dikelola dalam semangat positif.
M Raisul Akram ST, Owner Qube Billiard & Cafe, dengan lantang menyuarakan pentingnya menghapus stigma terhadap olahraga biliar.
“Kita sering salah kaprah. Biliar bukan tempat judi. Ini olahraga yang menuntut presisi, fokus, dan mental kuat. Di PON XXI kemarin, Aceh bawa pulang 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu dari biliar. Itu prestasi, bukan pelampiasan.” ungkap Raisul dalam keterangannya. Selasa, 15 Juli 2025 lalu.
Sementara itu, Masykur SH, Ketua POBSI Lhokseumawe, menyebut turnamen ini sebagai langkah awal untuk membentuk ekosistem biliar yang sehat dan terorganisir.
“Kita ingin Lhokseumawe jadi sentral pembinaan biliar di Wilayah Utara Aceh. Dari sini kita bangun prestasi, bukan sekadar kompetisi.”
Di tengah euforia e-sports dan tren olahraga digital, biliar tetap punya tempat spesial—teknik, akurasi, dan ketenangan menjadi modal utama.



