Terkait kriteria calon Dirut Bank Aceh ke depan, Iqbal kembali mengulangi statemen yang pernah disampaikan sebelumnya kepada media.
Dari kacamata dunia usaha, harus berani untuk ekspansi ke arah pinjaman produktif guna mengembangkan sektor dunia usaha.
Kedua, Dirut Bank Aceh Syariah tidak mesti orang Aceh, melainkan orang-orang yang bisa membangun Bank Aceh ke depan. Apalagi, sebut Iqbal, semenjak bank konvensional tidak ada lagi di Aceh, banyak potensi atau peluang agar mereka dicalonkan menjadi Dirut Bank Aceh.
“Jadi menurut kami, Pemerintah Aceh selaku Pemegang Saham Pengendali harus melakukan langkah ekstrem dengan membuka peluang selebar-lebarnya bagi siapa saja yang akan berkompetisi menjadi Dirut Bank Aceh. Dalam percaturan global sekarang ini, menjadi aneh kalau ada pembatasan apalagi rekruitmen secara diam-diam,”ungkap Iqbal.
Dalam diskusi yang berlangsung santai itu, berbagai masukan dan testimoni tentang keberpihakan Bank Aceh kepada pengusaha juga diungkapkan oleh H Ramli, Iqbal Idris Ali, dan TAF Haikal.
“Harus jujur kami katakan, keberpihakan Bank Aceh kepada kalangan pengusaha masih sangat minim. Sudahlah, ini kita jadikan sebagai pengalaman buruk masa lalu untuk kita menuju masa depan yang lebih baik dengan konsep perbankan yang mendukung dunia usaha. Untuk mewujudkan itu tentu saja dibutuhkan direksi yang berani, bebas dari intervensi,” kata H Ramli dibenarkan Ikbal Iqbal Idris dan TAF Haikal. (R).
Halaman : 1 2















