“Istri prajurit adalah kekuatan dahsyat di balik keberhasilan tugas. Prajurit yang hebat lahir dari keluarga yang kokoh. Jaga kehormatan diri, jaga institusi, dan niatkan setiap pengabdian sebagai ibadah.”
[Kolonel Inf Ali Imran, Danrem 011/Lilawangsa].
- Ramadan, Keluarga, dan Disiplin yang Diuji di Korem 011/Lilawangsa
PAGI itu, aula Makorem 011/Lilawangsa di Lhokseumawe tidak hanya dipenuhi barisan seragam loreng. Di antara para prajurit, tampak deretan ibu-ibu Persit duduk rapi, wajah mereka menyiratkan peran yang jarang disorot.
Senin, 2 Maret 2026, di bulan Ramadan yang sarat makna, pengarahan Komandan Korem 011/Lilawangsa menjadi lebih dari sekadar agenda Jam Komandan. Ia menjelma ruang kontemplasi tentang siapa sebenarnya yang menopang keteguhan seorang prajurit.
Kolonel Inf Ali Imran berdiri di hadapan ratusan anggota TNI dan Persit Kartika Chandra Kirana (KCK). Suaranya tegas, tetapi tak kehilangan nada empati.
RUMAH TANGGA SEBAGAI BASIS PERTAHANAN
BAGI Danrem 011/Lilawangsa, kekuatan militer tidak hanya bertumpu pada latihan dan persenjataan. Ia bermula dari rumah. Dari dapur yang mengepul setiap pagi. Dari doa yang lirih setiap suami berangkat tugas.
Di tengah dinamika tugas teritorial yang tak pernah benar-benar sepi, ia mengingatkan bahwa keberhasilan seorang prajurit bukan kerja individual. Ada peran istri yang menjaga stabilitas emosi, mendidik anak, dan memastikan rumah tetap menjadi ruang pulang yang utuh.



