Jajang menyebut, padahal komoditi andalan Desa Alur Mentawak diperoleh dari sektor Pertanian dan Perkebunan.
Yang menyakitkan, sebut Jajang. Saat mereka berjuang mengeluarkan hasil komoditinya dari wilayah Desa Alur Mentawak, disamping harus berjibaku dengan lumpur saat musim hujan, mereka harus mengeluarkan kocek untuk membayar retribusi pajak jalan via kabupaten Langkat.
“Kalau kita keluar melalui Aceh Tamiang, kita harus memutar jalan dan sangat jauh. Mana lagi jalannya hancur. Untuk mempersingkat waktu, kita harus lalui akses keluar via Langkat, itu yang tercepat. Tetapi harus membayar upeti [pajak],” beber Jajang.
Pemerintah Harus Peka
Kecuali itu, papar Jajang. Masyarakat berharap perhatian dan kepekaan Pemerintah Aceh Tamiang untuk membangun pengerasan badan jalan di Desa Alur Mentawak.
Agar akses keluar masuk tidak lagi via Kabupaten Langkat, “jika terjadi sangat menguntungkan, terutama bagi desa dan pemerintah Aceh Tamiang.
Sebab keluar masuk hasil komoditi melalui jalan sendiri, tidak lagi menumpang via Langkat. “Ini kan menguntungkan daerah, bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pertanian.
“Harapan kami, pemerintah Aceh Tamiang peka pada wilayah kekuasaannya, terutama itu, untuk memajukan daerahnya. Padahal saat Pemilukada lalu, 93 persen suara pemerintah yang menang hari ini,” beber Jajang.




