BANDA ACEH (MA) – Langkah besar diambil Pemerintah Aceh dalam pengelolaan lingkungan dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). PT Garda Lestari Ekologi Hutama (GLEH) secara resmi memperkenalkan fasilitas Insenerator Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berlokasi di Aceh.
Fasilitas ini menjadi solusi konkret atas persoalan limbah medis dan industri yang selama ini selalu dikirim ke luar daerah untuk dimusnahkan.
Direktur Utama PT GLEH, T. Emi Syamsyumi, mengungkapkan bahwa pengoperasian insenerator ini merupakan upaya untuk menghentikan ketergantungan Aceh pada pihak luar dalam pengelolaan limbah B3.
”Selama ini sampah B3 dibawa ke luar Aceh, padahal potensi PAD-nya luar biasa. Per tahun Aceh bisa mendapatkan Rp50 hingga Rp70 miliar jika dikelola sendiri. Hari ini, alhamdulillah insenerator ini terwujud dan akan mulai beroperasi (on) dalam minggu ini,” ujar Emi saat ditemui usai peluncuran, Kamis (7/5/2026).
Emi menambahkan, proyek ini sebenarnya sudah direncanakan sejak era beberapa gubernur sebelumnya, namun baru kali ini berhasil direalisasikan dan dioperasikan di bawah manajemen PT GLEH dengan dukungan penuh pemerintah.
Target Kelola 15 Ton Limbah per Hari. Saat ini, kapasitas kelola PT GLEH mencapai 6 ton per hari. Namun, berdasarkan data yang ada, total produksi limbah B3 dari sekitar 86 rumah sakit di seluruh Aceh mencapai 11 hingga 15 ton per hari.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















