Ulat Grayak Tentara Serang Tanaman Jagung Hibrida P32 di Agara

Rabu, 22 Mei 2019

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tenggara (ADC)- Serangan ulat grayak tipe tentara yang kesohor dapat melumat dengan cepat tanaman petani, kini sudah mulai menyerang areal lahan petani di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) Provinsi Aceh. 

“Dari lahan 0,5 hektar yang kami miliki, biasanya benih jagung P32 dari DuPont ini mampu hasilkan panen 4 ton pipilan kering. Tapi sekarang ini, hanya mendapatkan 2,4 ton pipilan kering saja,” ujar Daulat Tampubolon (66) petani asal Desa Lawe Beringin Sabas Kecamatan Semadam Kabupaten Aceh Tenggara, Selasa 21 Mei 2019.

Daulat juga mengatakan, petani jagung di Desa Lawe ini, rata rata menggunakan benih jagung hibrida Pioneer P32 dan nyaris gagal panen semua. Kondisi yang kini tengah dialami petani jagung di Agara, ternyata juga sama terjadi di Dairi Medan.

Dilansir dari laman suaratani.com, sejumlah petani jagung di Kabupaten Dairi mensinyalir, serangan hama ulat grayak jenis baru ini, bersumber dari benih yang mereka gunakan.

BACA JUGA...  Kontingen Kota Langsa Juara Umum O2SN SMA Tingkat Provinsi Aceh 2019

“Sebab dari pengamatan kami, hanya tanaman jagung yang menggunakan varietas P32 yang terserang ulat grayak di Dairi ini. Sementara itu, tanaman jagung varietas lain tidak terserang,” kata Dedi Kristian Sinaga petani jagung di Laenaboru 2, Desa Adian Nangka, Kecamatan Siempat Nempu Kota Sidikalang, Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara.

Menurut Dedi, para petani di daerahnya kecewa dengan bibit yang mereka gunakan sekarang yaitu bibit P32. Dimana, awal tanam bibitnya masih bagus dan pertumbuhannya luar biasa sesuai dengan harganya yang cukup mahal.

Dedi mengaku, awal pemakaian benih P32 harga jagung yang dibelinya di toko tani di Kota Sidikalang harganya mencapai Rp 700.000 per sak ukuran 5 kilogram. Hingga dipembelian keempat (empat kali penanaman), harga tiba-tiba turun menjadi Rp 500.000 per sak.

Untuk kemudian, pembelian kelima, harga turun lagi menjadi Rp 420.000 per sak. “Saya tidak tahu apa alasan harga benih jagung ini turun. Tapi anehnya, ukuran biji benih jagung juga berubah dari ukuran jumbo menjadi ukuran kecil,” ungkap Dedi.

BACA JUGA...  Sukses Digelar, Pekan Raya Cahaya Aceh Dikunjungi 6.780 Orang

ia juga menyebutkan, pertanaman jagung yang dilakukannya sejak menggunakan benih P32 sampai ke empat kali tanam, pertumbuhan tanaman bagus dan tidak ada serangan hama ulat.

“Barulah, dipertanaman kelima yang dilakukan pada April lalu, serangan hama ulat grayak muncul dan sulit dikendalikan. Dimana saat ini umur tanaman jagung Dedi berumur satu bulan,” sebutnya.

“Tanam tumbuh tapi langsung diserang ulat sampai daun mudanya terpotong dan lama kelamaan daun ada bercak-bercak putih. Bukan satu atau dua petani yang kena, tapi seluruh petani jagung yang menggunakan P32 kena dampaknya. Sedangkan yang beda merek tidak ada serangan.”

Dedi mengaku, merasa dirugikan dengan adanya dugaan penggunaan virus yang dilakukan perusahaan yang memproduksi bibit P32.

“Kami menduga seolah-olah ada kerjasama perusahaan lain yang memproduksi obat-obatan pertaniaan agar perusahaannya juga dapat menjual produk-produknya,” kata dia.

BACA JUGA...  Kepala BPKS : Peranan Satuan Pengamanan Merupakan Garda Terdepan

Untuk menekan serangan semakin parah, Dedi mengaku sudah dua kali melakukan penyemprotan dengan interval waktu semprot sekali seminggu.

Namun, sampai sekarang, belum ada tanda-tanda perubahan. Daun tanaman masih terlihat bolong-bolong.

Sementara itu, Linda Boru Tompul, petani jagung lainnya di Desa Tanjung Maraja, Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungun, juga mengatakan, hama ulat grayak menyerang tanaman jagungnya yang masih muda. Dia sendiri menggunakan Bisi 18.

Linda mengaku tidak mengetahui sumber ulat grayak tersebut. Akan tetapi, ulat grayak telah membuat puso tanaman jagung tetangganya.

“Tanaman jagung sebelah ladang saya hancur total dan terpaksa dibabat karena ulat grayak. Tanaman saya, sebagian sudah berumur dua bulan dan sebagian lagi masih berumur di bawah dua bulan. Nah, yang tanaman muda inilah yang banyak diserang, kalau yang sudah dua bulan serangan sedikit saja,” tutupnya. (Ahmad Fadil/Rel)

Berita Terkait

Kandidat Ketua PWI Aceh NN Sesalkan Indikasi Pembunuhan Karakter 
Satgas Bencana Asel Bersihkan Fasum dan Rumah Warga
Ayah Wa Besuk Korban Kekerasan Tiro di Rumah Sakit Pidie
Tragedi Berdarah di Tiro, Tarmizi Age: Pak Prabowo Selamatkan Perdamaian Aceh
Insiden Berdarah di Pidie, Ayah Wa: Jaga Perdamaian 
Indonesia Bidik Kemitraan Strategis Migas di ADIPEC 2026
Ketua PSI Persiber Indonesia Audiensi dengan Kadis Pendidikan Aceh
Dana Perimbangan Cair, Lima Ketua KADIN Batal WO di Musprov ke-7 Banten

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 20:13 WIB

Kandidat Ketua PWI Aceh NN Sesalkan Indikasi Pembunuhan Karakter 

Kamis, 5 November 2026 - 20:05 WIB

Satgas Bencana Asel Bersihkan Fasum dan Rumah Warga

Kamis, 5 November 2026 - 19:57 WIB

Ayah Wa Besuk Korban Kekerasan Tiro di Rumah Sakit Pidie

Kamis, 5 November 2026 - 11:03 WIB

Tragedi Berdarah di Tiro, Tarmizi Age: Pak Prabowo Selamatkan Perdamaian Aceh

Rabu, 4 November 2026 - 21:43 WIB

Indonesia Bidik Kemitraan Strategis Migas di ADIPEC 2026

Berita Terbaru

Satgas PB Asel melaksanakan gotong royong membersihkan Fasum dan rumah warga di Trumon, Kamis, (5/11/2026).(Foto/mediaaceh.co.id,/istimewa).

MILITER

Satgas Bencana Asel Bersihkan Fasum dan Rumah Warga

Kamis, 5 Nov 2026 - 20:05 WIB

Bupati Aceh Utara Ayah Wa saat membesuk korban dugaan kekerasan di rumah sakit Pidie.

PEMERINTAHAN

Ayah Wa Besuk Korban Kekerasan Tiro di Rumah Sakit Pidie

Kamis, 5 Nov 2026 - 19:57 WIB