“Sebelum tumbang kayu raksasa Trumbesi itu, kami masyarakat sekitar sudah menyurati Pemerintah Kota Pemko yang ditujukan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebesaran Kota Sabang, selaku instansi yang bertanggung jawab terhadap keindahan dan keselamatan manusia, namun tidak ditanggapi sampai musibah ini terjadi,” kata salah seorang korban Fandi Zulhadi, S.I.Kom.
Sabang (MA) – Warga kota Sabang pada pukul 23.00 tengah malam dikejutkan sekira pukul 23.00 WIB, setelah tersiar kabar salah satu pohon peninggalan jaman penjajahan yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun tumbang di Jalan Teungku Cik Ditiro, persisnya depan Masjid Agung Babussalam, Gampong Kuta Ateuh, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang.
Saat kejadian cuaca di kota Sabang sedang angin disertai hujan deras sehingga, tidak banyak masyarakat yang melintas di lokasi tumbangnya kayu bernama Trumbesi itu. Akibat tumbang kakeknya kayu ini merusakan beberapa bangunan dan kendaraan.
Menurut keterangan dari para masyarakat yang berdomisili dan pedagang sekitar kejadian, belum lama ini mereka termasuk Keuchik (Kepala Desa) telah Dinas terkait, agar memangkas cabang-cabang yang mengarah pada bangunan rumah dan kedai yang ada sekitar.
Namun, surat permohonan tersebut kabarnya tidak ditindak lanjuti oleh Dinas dimaksud seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) setempat. Sehingga, kayu yang memang sudah sangat gaek dan tak kuat menahan beban dahannya yang rimbun ini pun tidur dengan sendirinya dan menimpa beberapa bangunan termasuk kendaraan.



