“Kalian harus Independen, jangan memihak. Beritakan secara benar karena sasaran masyarakat sekarang kepada media massa,” pesann pria  energik dan bersemangat ini meskipun umurnya hampir memasuki kepala delapan.

Kepada para wartawan, petinggi GAM dengan nama resmi Tgk. Zakaria Saman itu dan lahir di Keumala, Pidie, Aceh, 1 Januari 1946 sangat percaya diri untuk bersaing di arena pemilihan kepala daerah setingkat gubernur.

BACA JUGA...  Kapolres Bireuen Bahas Ini dalam Pertemuan dengan Wartawan

“Tim saya ada di mana-mana, saya sendiri tak tahu siapa-siapa mereka dan berapa jumlahnya,” begitulah pengakuannya, saat wartawan ketika memancing jumlah Tim Sukses dan pendukung.

Pria yang akrab dengan panggilan Apakarya ini sangat ditakuti lawan politik Partai Aceh terutama saat dia menjadi ketua Tim Sukses pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf bersaing di Pilkada Aceh Tahun 2012 lalu. Saat itu, nama Apakarya selalu disebut-sebut pihak lawan PA bila terjadi beragam gangguan di lapangan.

“Soal strategi saya, jangan ragukan lagi, saya dulu tim pemenangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, jadi saya sangat tahu tentang mereka,” demikian pengakuan Apakarya saat ditanyakan langkah dia menghadapi upaya intimidasi pihak lawan terhadap Tim Sukses di lapangan.

BACA JUGA...  Pengurus PWI Sabang Kecam Sikap Oknum DPRK Banda Aceh Yang Mengusir Wartawan

Selain siap menghadapi serangan lawan, Apakarya bersama tim yang telah dibentuk juga siap menghadapi bila nantinya Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh mengumumkan kopian KTP nya ganda. “Jadi saat ini belum tahu apa ganda atau tidak, kalau ganda kita siap memberi gantinya,” janji pemasok senjata untuk Prajurit GAM di lapangan era GAM masih aktif.

Bagi Apakarya, soal kopian KTP itu urusan kecil, maklum pria yang terlibat langsung mengatur strategi pertahanan Tentara GAM itu sangat banyak pendukung meskipun Apakarya tidak mengenal mereka satu persatu. “Pendukung saya paling banyak ya di Keumala, Pidie,” katanya.

Ketika ditanyakan basis pendukung  wakilnya, T Alaidinsyah, Apakarya tak mau mereka-mereka dan dia menyarankan kepada wartawan untuk menanyakan langsung kepada sang Cawagub. “Kalau pendukung wakil saya tanyak ke beliau, dia kan orang Aceh Besar dan Banda Aceh,” ujarnya sambil berpesan supaya wartawan harus terpisah dari pelaku politik dan tetap independen meskipun mendapat campur tangan dari siapapun. [Said Saiful]