Kedua, event ini menerapkan bebas sampah plastik. Para pemilik tenan diminta tidak lagi menggunakan plastik untuk membungkus produk, tapi menggunakan paper bag (tas/kantong kertas).
“Pengunjung kami minta untuk membawa botol minuman sendiri. Di lokasi, acra juga turut disediakan water refill station untuk mengisi air. Langkah ini, merupakan bentuk dukungan Pemerintah Aceh dalam mewujudkan Indonesia bebas sampah plastik pada 2025,” pungkasnya.
Ketiga, penerapan pembayaran dengan QRIS sebagai upaya mewujudkan teknologi keuangan agar proses transaksi menjadi lebih mudah, cepat dan terjaga keamanannya.
“Penerapan tiga konsep baru di Aceh Pop Culture akan menjadi model untuk event-event budaya dan pariwisata ke depannya,” tuturnya.
Selama event berlangsung, komunitas vespa dan komunitas motor antik memamerkan produk-produk dari tahun 1970-an.
Para pengunjung dari kalangan berumur pun dibawa bernostalgia ke masa lalu. Sedangkan bagi kalangan milenial, kehadiran motor-motor antik itu jadi ajang edukasi.
Selain itu, juga hadir pecinta tamiya yang masih bertahan dengan hobinya hingga kini. Penampilan puluhan talenta muda dan atraksi pemain skateboard semakin memeriahkan ajang ini. Aceh Pop Culture Fest memang diselenggarakan untuk memberi ruang kepada pekerja kreatif dan komunitas. []



