“Ini saluran [drainase] yang di depan kita ini menampung 4 kampung. Harusnya ini [beban debit air] bisa dibagi. Jadi nanti kami berencana akan membelah rel kereta api, bikin saluran di bawahnya untuk dialirkan ke saluran besar di depan Bengkel Giat, Sriwijaya, Kota Kualasimpang,” sebutnya.
Dikatakan PJ. Bupati Asra, keadaan banjir akibat genangan air karena curah hujan yang tinggi tersebut sudah “melegenda” dan berulang kali terjadi, namun belum ada solusi konkret dan komprehensif dalam rencana serta implementasi penanganannya.
“Ceritanya udah legend ini, dari dulu sampai sekarang. Tapi tidak pernah kita selesaikan. Saya mau ini hari kita bongkar itu dulu [menunjuk ke arah rel kereta api]. Jadi beban saluran drainasenya kita bagi dua. Tidak semuanya menampung kemari [saluran drainase di perbatasan Perdamaian – Paya Bedi] Ini dari Bukit Rata, dari Paya Bedi tumpahnya ke Perdamaian.
Ditegaskan PJ. Bupati Asra, dirinya bersama SKPK terkait akan mengupayakan perencanaan penanganan yang komprehensif yang menggunakan pelbagai sumber pendanaan yang ada, terutama APBA, APBN serta sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
“Kalau ini tidak kita selesaikan, sampai kapan pun tidak akan selesai. Ini aneh. Kita sedang dalam musim kemarau, tapi seolah-olah kita berada di musim hujan. Begitu debit curah hujan tinggi sedikit, sudah begini [banjir akibat genangan air],” katanya sembari meninjau keadaan di sekitar.




