Nikah di Deli Serdang Surat Keluar di Barus Jahe

  • Bagikan

example banner

 195 total views,  2 views today

Nikah di Deli Serdang Surat Keluar di Barus Jahe kabupaten Tanah Karo, itu dialami FL dan Istri keduanya korban permainan kepala KUA Barus EH. 

Laporan | Ali Akbar

LUBUK PAKAM – Nikah di Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Surat Nikah keluarnya di Barus Jahe, Kabupaten Tanah Karo. Itu dialami pasangan FL dan istri keduanya.

Ada kejanggalan yang tak lazim diterima pasangan FL dan Istri keduanya. Merujuk pada Undang-Udang Pernikahan tahun 1974 ayat 3, seseorang yang mau menikah lagi harus ada izin istri pertama dan harus ada surat dari pengadilan Agama.

Mediaaceh.co.id mencoba menelusuri jejak janggal tersebut, Senin, 12 Juli 2021; dengan mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA), namun kepala KUA tidak berada ditempat.

Keterangan stafnya, kepala KUA masih berada di Medan. Lalu dicoba hubungi melalui Short Messege Service (SMS) dijawab oleh Kepala KUA, “Kamu siapa?,” katanya.

Mendapat jawaban seperti itu, wartawan mencoba menghubungi via seluler, namun tak diangkat. Kemudian kepala KUA menjawab via SMS, “Salah sambung ,” ucap KUA Barus yang berinisial EH.

Korban berinisial FL tinggal di perumahan Selfir desa Tanjung Sari kecamatan Batang Kuis Deli Serdang Sumatra Utara (Sumut).

Seperti yang dialami Farlis (korban), dia tidak pernah menanda tangani tentang pengurusan surat pernikahan yang keduanya karena sudah mempunyai istri.

Begini Koronologis kejadian pembuatan buku nikah nomor 342/38/VIII/2020. Tanggal 03 Maret 2020.

Ayu Lestari (istri sirih Faris) dan ibunya GL membeberkan perihal buku nikah itu kepada suaminya P kalau anaknya sedang hamil.

Kemudian AL mengajak FL menemui GL (ibu kandung AL) di AAL pasar 12. Ayah AL yang berinisial P bersedia menikahkan mereka berdua secara islam.

Lalu Farlis di ajak Ayu Lestari dan ibunya menemui RD dan membicarakan hal tersebut. Mendengar permasalahantersebut, RD-pun menyanggupi untuk mengurus dan membuat pernikahan ini menjadi resmi dengan mendapatkan buku nikah.

Setelah mendengar penjelasan, Ayu Lestari menyerahkan uang sebesar Rp 2.700.000,-, kepada RD di Kampung AAL, tanggal 23 Juli 2020 tahun lalu. Setelah pelaku menerima uang tersebut, RD juga meminta surat-surat sebagai syarat.

Dua lembar foto copy surat Nikah Sirih; Fhoto Copy KTP dan Pas Fhoto itu pun (RD) mencucikan Pas Photo 2×3 tersebut di kirim melalui WA Ayu Lestari.

Tidak ada surat persyaratan lainnya, kemudian RD menjumpai SA, Pegawai Kantor KUA Kecamatan Batang Kuis. Lalu RD dan AL menyerahkan berkas kepada staf KUA tersebut.

Lebih kurang 2 Minggu datanglah SA dan RD menjumpai AL, beliau mengatakan, KUA Kecamatan Batangkuis menikahkan ulang Rabu jam 10. 00. Wib tanggal 13 Juli 2020 di Jl pendidikan Dusun IV Desa Kolam Kecamatan Percut Sei Tuan.

Dalam nikah ulang tersebut ayah kandung Ayu Lestari yang bernama Ponidii Alias Klip. Menyerahkan perwaliannya ke KUA Batang Kuis yang dijabat Sulaiman, (sekarang Alm).

Setelah tiga minggu acara tersebut, datanglah telpon RD pada tanggal 05 Agustus 2020, ia mengatakan Buku Nikah tersebut sudah siap dan buku ini harus di jaga kerahasiaanya, kalau bisa biar AL dan mamak yang memegangnya.

Saat ditanya terkait siapnya buku nikah FL dan istri keduanya (AL) yang sah secara nega?. FL mengatakan tidak pernah menandatangani surat menyurat tentang pernikahan, karena saya punya istri sah.

Dua bulan kemudian istri pertama korban inisial UL mengadu ke Polrestabes setempat didampingi Kepling, Dedi Irwanto. Dengan pernyataan sebagai bukti awal pengaduan tersebut, dengan Laporan Kepolisian Nomor lP/2809/K/XI/2020/SPKT Poltabes Medan tanggal 11 Nopember 2020 a/n UL, istri pertama FL dengan dua orang saksi-saksi, di antaranya kepling dan RD .

Mendengar laporan tersebut, GL (ibu AL) mulai heboh, dan bicara pada RD, “gimana ini?,”.

“FL-pun ikut bicara dan menjawab, kan sudah saya bilang, jangan di buat Itu buku. Dari dulu sudah saya bilangkan., kalau saya punya istri sah,” ujar korban.

“Yah harus kita hadapilah dan mempertanggung jawabkan kepada hukum,” kata GL) . “Kasihan RD, resiko beliau yang mau jadi pahlawan urus buku nikah tanpa syarat,” ujar korban.

Dua minggu kemudian terjadi pertengkaran, FL ( korban) meminta buku Nikah tersebut serta bon-bon faktur pembangunan rumah. “Buku nikah kalian sudah saya bakar,” ujar GL mertua korban.

FL memberanikan diri mencari jalan dengan menyelidiki Nomor Buku Akta Nikah tersebut. Berawal Dari Kartu Keluarga AL di Kantor Camat Percut Sei Tuan. Hingga Mengarah ke Kantor Urusan agama di Kecamatan Barus jahe Tanah Karo.

Setelah menemukan hasil, korban membuat Steadmen di kantor tersebut . Setelah mendengar steadmen FL, Kepala KUA Barus Jahe menelepon korban agar jumpa di warung kopi Belia di jalan Pasar 13 Desa Bandar Khalippa warung kopi Tabagsel.

Tiga hari kemudian FL datang ke warung tersebut ketemu kepala KUA Barus Jahe. EH kelihatan kewalahan menunjukan data-data N1. N2. N3. N4 kepada FL.

“Saya bingung, kenapa data-data ini tidak ada sama saya,” ujar KUA Barus Jahe sambil membuka buku tulis biasa nomor Buku Nikah keluar.

“Setelah diperiksa di temukanlah di buku besar Nomor akta Nikah 342/38/VIII/2020. Nikah Tanggal 03/03/2020 yang tidak pernah secara prosedur SOP penerbitan buku nikah. A/n FL dan AL, di keluarkan KUA Barus Jahe EH,” ungkap Korban.

FL (korban) mengatakan, siap mempertanggung jawabkan semua keterangannya dihadapan para awak media.

FL berharap dinas terkait dapat menelusuri tentang penerbitan buku nikah ganda dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab, supaya ditindak sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. [*].

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *