TAPAKTUAN (MA) – Penjabat (Pj) Bupati Aceh Selatan Cut Syazalisma mempertanyakan, apa penyebab yang paling esensi sehingga angka stunting tidak turun di daerah itu.
Pertanyaan itu dilontarkan Cut Syazalisma ketika memberikan pengarahan kepada peserta rembuk stunting di Gedung Pertemuan Rumoh Agam, Jalan Nyak Adam Kamil, Tapaktuan, Rabu, (27/12).
Tanpa mengharapkan jawaban, pertanyaan itu langsung dijawabnya.
Menurut Cut Syazalisma, karena belum tercipta sinergitas antara pihak terkait dalam penangananya.
Sehingga, dalam kesempatan tersebut sebut, dia mengharapkan agar antara dinas terkait betul-betul bersinergi untuk mengatasi angka stunting yang masih tinggi di Aceh Selatan.
Menurut data dari survey studi status gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan RI, bahwa pada tahun 2022 prevalensi balita stunting di Kabupaten Aceh Selatan masih 34, 8 persen.
Bupati mengharapkan agar angka tersebut dapet diturunkan dan kemudian dijawab Kadiskes Aceh Selatan Fachrijal bisa 14 persen.
Jika dilihat lebih rinci berdasarkan data elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (PPGBM) pada periode Mai 2023, Kecamatan Kluet Utara, Samadua, dan Pasie Raja menjadi tiga Kecamatan dengan angka prevalensi stunting tertinggi dibandingkan Kecamatan lainnya, yakni 41.6 persen, 32.2 persen, 15.8 persen.




