Mahasiswa Pro Rakyat Pejabat ‘Doyan’ Pesawat

Banda Aceh (MA)-Hegemoni pejabat di pemerintahan Aceh mulai terlihat. Belum lepas dari ingatan centang perenangnya masalah APBA, mulai dari dana lunak Rp 2,7 miliar untuk Kadin Aceh, pembelian mobil dinas SKPA Rp 100 miliar, hingga terakhir mengiris hati pembatalan pembangunan 1.100 unit rumah kaum dhuafa.

Lebih tak masuk akal lagi, di tengah sejumlah masalah dan sorotan mahasiswa, pemerhati dan lembaga, Pemerintah Aceh seolah menganggapnya angin lalu. Teranyar yakni dengan pembelian pesawat. Dan, hal tersebut (membeli pesawat) telah sah dilakukan. Ini terpapar pada Senin (9/12), Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menandatangani perjanjian kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU) pengadaan pesawat terbang N219 serta pengembangan sumber daya manusia dan pengoperasian angkutan udara Aceh dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero).

Penandatanganan berlangsung di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. Lagi-lagi pertanyaan mencuat, sudah benarkan sikap dan langkah Pemerintah Aceh? Hanya saja, pun menggelinding ‘pengkondisian’ pembelian pesawat, namun mahasiswa di Aceh tak henti bergerilya membantu para fakir dan miskin.

Salah satunya dengan menjalankan donasi pembangunan rumah dhuafa. Artinya, meski Pemerintah Aceh sekarang tampak cuek dengan nasib serta harapan kaum dhuafa mendapatkan rumah, namun kalangan elit intelektual itu tetap menyingsikan legan membantu.

Ini terlihat dari elemen mahasiswa KPA, SPMA dan HAMAS. Mereka menggalang dana untuk Nek Nur Halimah. “Ya, benar kami saat ini sedang menjalankan donasi pembangunan rumah Nek Nur,” sebut Muhammad Hasbar Kuba, Koordinator Kaukus Peduli Aceh (KPA).

Nek Nur Halimah sendiri telah berusia 56 tahun tinggal di Desa Ujong Padang Rasian, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. Rumahnya hanya berukuran 5X5 meter. Beratap rumbia dengan dinding papan yang bolong tanpa penerangan listrik.
====
Wanita berhijab berkulit sawo matang itu hanya sesekali melemper senyum saat kru koran ini bertanya. Mungkin, terbersit di hati perempuan kurus ‘Insya Allah’ ada perubahan.

Begitulah suasana rumah Kak Nong. “Ya, saya berharap pemerintah memperhatikan kehidupan kami yang tinggal di desa-lah,” sebut Kak Nong.

Kondisi rumah (foto-red) itu adalah potret kehidupan Kak Nong, salah seorang warga Desa Senebok Kandang, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. Kemiskinan masih jadi perbincangan di kabupaten/kota Provinsi Aceh. Hanya saja, kehidupan mereka jarang terekspos ke publik. Mirisnya lagi, ketika kebanyakan warga Aceh mengiba rumah bantuan untuk kaum dhuafa, harapan itu berbalik 360 derejat. Entah siapa yang salah dalam hal ini. Namun pastinya terpublis oleh MEDIA ACEH (di edisi sebelumnya) banyak cerita kelam di balik perjuangan mereka para warga miskin papa.
===
Mengenakan jilbab biru, pakaian daster, wanita berkulit legam itu berkeluh kepada MEDIA ACEH. Curhat perempuan bernama Nur ini, ya masalah ekonomi yang mendera rakyat Aceh sebanterannya. Mungkin, Nur, warga Gampong Pakuk, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar tersebut boleh dikata masih beruntung. Pun dengan keadaan apa adanya.

Pasalnya, masih ada sejumlah gubuk reot yang didiami penghuninya di provinsi paling barat Sumatera itu. “Suami saya kerja bangunan di luar kota. Seminggu sekali baru pulang,” tutur Nur. Untuk penyambung hidup rumah tangga, Nur terpaksa bekerja sebagai buruh tani dengan mengambil upah harian di sawah milik warga.

“Kalau saya tidak bekerja, mungkin tak bisa membiaya rumah tangga,” tukas Nur. Sedikit kesal, ketika Nur mendengar adanya anggaran untuk mobil dinas intansi (Satuan Kerja Perangkat Aceh) dari Pemerintahan Aceh senilai Rp 100 miliar.

“Kalau duit (Rp 100 miliar) dikasi ke rakyat, kan bisa membantu. Kesal juga mendengarnya. Andai rumah saya dihargai Rp 100 miliar, ya saya mau,” lirih Nur sembari berharap pemerintah lebih memikirkan rakyatnya.

Apa yang diharapkan Nur agar Pemerintah Aceh menghargai rumahnya Rp 100 miliar setara dengan anggaran belanja mobil dinas itu, sama sekali sangat mustahil. Apalagi melihat rumah dan lahan yang didiaminya.

“Kalau hujan turun, ya air masuk ke rumah. Lihat saja sendiri, dinding saja berlubang. Di sini banyak warga yang kurang mampu. Kan bagus duit segitu diberikan kepada warga, bukan dibelanjakan untuk beli mobil,” ungkapnya.

Ketika ditanya, apakah Nur mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, seperti PKH. “Saya dapat tapi tidak juga mencukupi untuk ke rumah,” imbuh istri dari Irwansyah ini.

Harapan Nur sama dengan tetangga Syukri dan Safrida. Kehidupan Nur tak jauh beda dengan tetangganya itu. Kerja sehari untuk makan sehari juga. Sedangkan Pemerintah Aceh menghamburkan uang Rp 100 miliar untuk membeli mobil baru.
Senada dikatakan Salmah. “Kalau saja rumah saya dihargai segitu (Rp 100 miliar) ya, pasti mau lah,” kata wanita 50 tahunan sambil melempar senyum, Rabu (20/11).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *