Pengusaha Aceh, Ketua Dewan Delapan, Mantan Panglima Prang dari Simpang Ulim

Simpang Ulim adalah salah satu kecamatan di bagian barat Kabupaten Aceh Timur sekarang. Tempo dulu Simpang Ulim dikenal terkaya diantara negeri-negeri di Pantai Timur, sebagai pengekspor lada terbesar. Keberadaan pengusaha kaya Simpang Ulim di Penang Malaysia, menjadikan Simpang Ulim wilayah dibawah kerajaan Aceh yang mempunyai pengaruh besar terhadap kerajaan kecil di Pantai Timur Aceh.

Ketika berkecamuk perang melawan penjajahan Belanda ke Aceh, pengusaha-pengusaha Aceh yang ada di Penang Malaysia kala itu memainkan peranan penting sebagai delagasi kerajaan Aceh di luar negeri. Tak tanggung, semangat membela tanah air dari pendudukan Belanda di Pantai Timur, maka kala itu pengusaha lada asal Aceh di Penang membentuk Dewan Delapan sebagai delegasi politik kerajaan Aceh di luar negeri.

Dewan Delapan di bawah Teungku Paya, mantan panglima perang dari Simpang Ulim itu, selain sebagai delegasi Kerajaan Aceh kala itu,  juga memimpin sedikitnya 300 orang lebih masyarakat Aceh yang bermukim di Penang.

Teungku Paya bukanlah pengusaha yang tanggung, selain memiliki kebun lada yang luas di kawasan Simpang Ulim, Ia juga mempunyai kebun lada di Tanjung Semantok, Kabupaten Aceh Tamiang sekarang. Perjalanan Teungku Paya ke Penang diawali sekitar tahun 1960, setelah Ia pindah dari Simpang Ulim ke Tanjung Semantok, Ia bersama saudara laki-laki nya hijrah  ke Penang mengurus perdagangan ladanya di pelabuhan Ingris di Penang, karena beliau juga mempunyai kapal layar pengangkut lada dari Pantai Timur Aceh, bernama Kapal Gypsy dan Penang Beuaty.

Dibelakang pengusaha kaya ini juga punya peranan seorang saudagar Arab, bernama syekh Ahmad Bin Abdullah Baschaib, Saudagar Arab yang kaya raya. Saudagar Arab itu sering mengirim uang kepada Teungku Paya, Ia sang Saudagar kaya raya berperan penting dibelakang layar untuk melawan Belanda di Pantai Timur Aceh.

Teungku Paya mempunyai tiga Kapal Laut yang bolak balik, Aceh – Penang melakukan perdagangan Lada besar-besaran dari Pantai Timur Aceh ke Penang Semananjung Melayu. Geliat Teungku Paya dalam membela tanah air, tercium oleh pihak Belanda. Kapal-kapal layar milik Teungku Paya terjaring dalam blokade serdadu Belanda. Bahkan dalam penyerangan Belanda di Pelabuhan Julok, Kapal Penang Beuaty yang juga milik Teungku Paya dibakar oleh serdadu Belanda (1872).

Perjuangan Teungku Paya tidak sebatas sebagai Dewan Delapan di Penang, namun setelah beliau pulang ke Aceh yaitu ke Tanjung Semantok pada tahun 1976. Teungku Paya atau Teungku Malaya terus melanjutkan perjuangannya melawan penjajahan Belanda dengan membentuk pasukan 150 prajurit dari Simpang Ulim melawan pendudukan Belanda di Idi Rayeuk.

Teungku Paya mengambil peranan dalam perang melawan Belanda di Idi Rayeuk, (1879) hingga beliau tidak dapat lagi berperang mengalami luka-luka dalam peperangan tersebut. Sedangkan salah satu putranya syahid dalam penyerangan Belanda di Tanjung Semantok(1877), sedangkan putranya satu lagi Nyak Hasan memimpin perang gerilya dari tahun 1881 hingga syahid pada tahun 1883.

Sejarah telah mencatat, betapa besarnya perjuangan Aceh dalam membela tanah air yang tercinta ini. Ternyata di Balik Kecamatan Simpang Ulim, Julok, Bagok, dan Idi Cut mempunyai historis sejarah yang besar dalam melawan pendudukan Belanda di Idi Rayeuk, Ibu Kota Kabupaten Aceh Timur sekarang ini.

Sumber :

1. Asal mula Konflik Aceh oleh Anthony Reid (1981)

2. Aceh Sepanjang Abad Jilid 1 Oleh H. Muhammad Said

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *