Transportasi Desa Ala Kota Sabang

Sabang (MA)-Meskipun Sabang sebagai kawasan tujuan wisata nasional dan internasional namun, di kota ini masih terlihat angkutan umum untuk masyarakat Desa (Gampong) jauh dari kemajuan zaman. Padahal beberapa tahun sebelumnya, ribuan mobil bekas eks negara Singapura masuk ke pulau  bebas cukai ini akan tetapi kebutuhan transportasi rakyat terkesan dilupakan. 

Tidak dipungkiiri kemajuan terhadap pengembangan pariwisata di Sabang terus meningkat dari tahun-ketahun, namun ada yang terlupakan di pulau yang katanya syurga tersembunyi ini yaitu, kebutuhan rakyat desa yang sampai saat ini masih belum berubah khususnya tentang transportasi umum.

Tidak heran kalau banyak mata pendatang tercengang ketika melihat masyarakat desa yang turun ke kota pada pagi hari maupun saat kembali pulang ke kampungnya, duduk di dalam kendaraan angkutan umum bersama barang-barang bawaan termasuk ternak hewan yang akan dijual ke pasar.

Hal tersebut terpaksa digunakan karena tidak ada pilihan lain pasalnya, angkutan umum pedesaan di Sabang hanya yang ada kendaraan roda empat jenis pick-up terutama mobil jenis Datsun keluaran tahun 70-an, yang hanya beratap tetapi tidak berjendela alias jendela terpal.

Padahal, kendaraan umum yang digunakan untuk pendukung pariwisata yakni mobil  rental, milik pengusaha merupakan kendaraan keluaran terkini Seperti mobil jenis kijang Avanza, Innova dan Toyota Hiace terbaru sementara kendaraan umum angkutan desa masih mengandalkan Datsun pick-up lanjut usia.

 Tidak diketahui kenapa pengusaha transportasi angkutan umum yang ada di Sabang, hanya memikirkan bisnis usahanya di bidang kebutuhan pariwisata semata, dan lupa terhadap kebutuhan rakyat yang semestianya diutamakan. Karena, rakyat juga butuhan transportasi yang lebih layak.

“Masih ada mobil angkutan umum pedesaan di Sabang ini yang sudah berumur, padahal disini pernah masuk mobil-mobil mewah dari Singapura, toch kenapa angkutan umum untuk rakyat masih menggunakan mobil tua”., ujar Sulaiman wisatawan yang mengaku asal Sumatera Utara kepada MEDIA ACEH, minggu lalu.

Menurut dia, angkutan seperti mobil pick-up jenis Datsun untuk masyarakat desa boleh-boleh saja tetapi harus ada kesan wisatanya. “Misalnya, mobil dibuat dengan model sendiri yang bisa menarik perhatian wisatawan, seperti angkutan di Filipina meski pun mobil tua tetapi antik.” katanya.

Karena lanjut dia, Sabang merupakan daerah kunjungan wisata jadi, semua yang ada disini harus ada kaitan dengan pariwisata termasuk angkutan pedesaan. Sehingga wisatawan tidak hanya melihat keindahan alam saja tetapi juga berkesan dengan kendaraan angkutan umum.

“Tinggal saja bagaimana mengimage supaya kendaraan angkutan umum pedesaan di Sabang, bisa menjadi perhatian dan menarik bagi wisatawan yang dapat melakukan itu tentunya Dinas Pariwisata dalam hal ini Pemeritah Kota Sabang,” pungkasnya.(Jalal).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *