Soal Bendera Alam Peudeung, Forkab Sabang Ikut Bicara

Sabang (MA)-Terkait polemik keberadaan bendera Alam Peudeung (Alam Pedang) dan bendera Bulan Bintang, Ketua Forum Komunikasi Anak Bangsa Aceh (Forum Aceh) Kota Sabang, Amrul angkat bicara.

Menurut Amrul, apa yang diperbincangkan sejumlah pihak atas keberadaan bendera Alam Peudeung dan Bulan Bintang tidak perlu diperdebatkan, karena kedua bendera merupakan sebuah lambang yang menjadi indetitas bagi Aceh.

“Dalam sejarah sudah jelas bahwa bendera Alam Peudeung sebagai lambang sah bagi bangsa Aceh, kemudian  bendera Bulan Bintang disebut sebagai bendera penyemangat perang bagi orang Aceh, pada zaman dahulu ketika melawan musuh,” kata Amrul.

Oleh sebab itu lanjut Amrul, apa yang didengungkan yang katanya pihak wakil Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) telah mengsahkan bendera Bulan Bintang, sebagai bendera yang sah dan diakui, masyarakat tidak perlu ambil pusing.

“Pasalnya, dimana pun di dunia ini setiap negara hanya memiliki satu Bendera, tidak ada dalam sebuah negara dikibarkan dua bendera. Termasuk negara kita Indonesia, hanya sangsaka Merah Putih lah sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujarnya.

Untuk itu, lanjut ketua Forkab Sabang itu, masyarakat perlu mempersoalkan tentang ada dua versi Bendera Aceh yang diperdebatkan, karena Aceh sendiri berada dalam bingkai Negara Republik Indonesia, yang berkibar bendera Merah Putih sebagai lambang negara yang berdasarkan Undang-undang Dasar 1945.

“Memang ada sebagian masyarakat Aceh menganggap bendera Aceh Bulan Bintang itu, sebagai bendera kerajaan. Padahal menurut cacatan sejarah Bendera Aceh yang diakui adalah Bendera Alam Peudeung maka, timbul lah dua versi yang berbeda,” ungkapnya.

Pun begitu, ingatnya, sebagai warga negara yang baik,  sepatutnya tidak boleh melupakan sejarah dan harus mengakui keberadaan bendera Alam Peudeung yang pernah berkibar di bumi Aceh pada masa lalu.

“Artinya, selaku masyarakat Aceh kita dukung keberadaan Bendera Alam Peudeung sebagai simbol Aceh.,” imbuhnya.

Seingatnya, sejarah sendiri dalam beberapa catatan menyebutkan, bahwa bendera Aceh yang diakui sebenarnya adalah bBendera Alam Peudeung yang berbentuk dua Pedang (Peudeung). Seperti disampaikan sejumlah pakar sejarah Aceh.

“Dalam sejarah disebutkan, bahwa Bendera Alam Peudeung merupakan lambang Aceh yang asli. Artinya, bukan bendera Bulan Bintang yang diperbincangkan oleh banyak orang termasuk wakil rakyat yang duduk di parlemen Aceh,” sebutnya.

Bahkan, sambungnya,  secara luas diceritakan bendera berwarna merah dengan lambang Bulan Bintang dan pedang On Jok (Daun Aren), merupakan pedang khas Aceh yang berbentuk Daun Aren terletak melintang di bawah lambang Bulan Bintang.

“Bendera Alam Peudeung sendiri dalam bahasa Aceh bermakna, “Alam” yang berasal dari bahasa Arab berarti Bendera dan “Peudeung” atau pedang. Bendera ‌Alam Peudeung merupakan bendera Kerajaan Aceh Darussalam berdasarkan catatan sejarah yang ditulis oleh Belanda. Akan tetapi, belum ada catatan dalam sejarah dan fakta yang jelas menggambarkan wujud aslinya,” jelasnya..

Seperti diketahui buku yang bergambar Bendera Aceh di masa Kerajaan Aceh Darussalam berjudul “Alam Atjeh” terdapat syair berbahasa Aceh yang berbunyi, “Di Aceh Na Alam Peudeung, Cap Sikureung Bak Jarou Raja (Di Aceh Ada Alam Peudeung Ber-Cap Sembilan di Tangan Raja)” Buku tersebut menceritakan kegemilangan sejarah Aceh dimasa lalu. (Jalal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *