Kue Khas Aceh, Buah Tangan dari Aceh Besar  untuk Dunia

Gampong Lampisang Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar telah ditetapkan sebagai kawasan destinasi wisata kuliner berupa makanan ringan khas Aceh dan Aceh Besar. sepanjang hampir satu kilo meter lintas jalan Banda Aceh-Meulaboh itu diapit oleh kedai makanan ringan.

Susuanan kue di Kedai Kak Neh menanti pembeli yang datang di Kawasan Kuliner Kue Trandisional Aceh dan Aceh Besar di gampong Lampisang kecamatan Peukan Bada Aceh Besar.

Lokasi di bibir jalan nasional lintas barat selatan ini, kerab disinggahi berbagai jenis transportasi yang melewati jalur tersebut, untuk memperoleh sejumlah makanan ringan dalam bentuk siap konsumsi. Bermacam jenis dan bentuk kue tradisional dijual disana, seperti, Bolu Ikan, Dodol Aceh, Kue Pala, Karah, dan hampir seluruh jenis kue kering tradisional Aceh dan kue basah terdapat di kedai pedagang  di situ.

Tidak jarang, para turis lokal dan manca negara yang melintasi di kawasan tersebut juga mampir dan menyerbu kue kue trandisional buatan home industri masyarakat setempat itu. bahkan tidak jarang para turis manca negara memborong dalamjumlah yang banyak untuk dijadikan oleh oleh bagi saudara saat kembali ke negaranya.

Gampong Cut Nyak Dhien yang dikenal sebagai pahlawan nasional wanita Republik Indonesia itu. telah dinobatkan sebagai gampong kuliner kue trandisional sejak dulu. Namun musibah gempa bumi dan gelombang tsunami,  26 Desember 2004 lalu menghancurkan seluruh usaha masyarakat di sana, tapi berkat semangat yang dimiliki masyarakat setempat, tak lama usai musibah terjadi ratusan kedai kue kembali beroperasi bahkan jauh lebih pesat dari sebelumnya.

Saat ini hampir seluruh kaum wanita di Gampong tersebut bergerak dalam usaha home industri (industri rumah tangga) meski tidak memiliki modal yang besar tapi tetap dapat menjalankan usahanya secara kecil kecilan hingga menjadi sebuah usaha rumah tangga yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sedangkan kaum pria tetap menjalankan aktifitasnya selaku kepala keluarga dengan berbagai kegiatan layaknya dikerjakan oleh seorang pria dalam membiayai keluarganya.

Dari usaha pembuatan kue tersebut sejumlah keluarga mengaku sangat terbantu dalam memenuhi kebutuhan kelaurganya selain penghasilan dari suami. Artinya ada puluhan hingga ratusan wanita di gampong setempat yang sudah mampu mendukung perekonomian keluarga melalui usaha pembuatan kue trandisional tersebut.

Sebagai contoh wanita yang telah sukses di bidang bisnis dan produksi kue trandisonal di Gampong Lampisang itu adalah Juariah (47). Saat ini Juariah mengelola dua pintu kedai atau ruko (rumah toko) berbagai jenis makanan ringan tersedia dan setiap bulan mampu meraup omset hingga puluhan juta rupiah.

“Permintaan memuncak pada bulan puasa (Ramadhan), dan musim libur sekolah anak anak, tapi kalau hari hari biasa hanya berkisar lima ratus ribu hingga satu juta lakunya,” kata Juariah yang diberi lebel kedainya  dengan nama Kak Neh.

Menurut Kak Neh sapaan akrab Juariah, dirinya selain mengandalkan tenaga sendiri dalam menggeluti usaha bisnis kue trandisional itu juga dibantu oleh putra-putrinya yang menjaga usahanya seusai pulang dari sekolahnya setiap hari. Kesempatan itu juga dimanfaatkan oleh Juariah untuk mendidik putra putrinya dalam dunia bisnis dan ekonomi mandiri, sehingga kelak dewasa tidak harus mengejar pekerjaan dan berketergantungan mencari hidup makmur melalui pegawai negeri (PNS) sebagaimana  cita cita kebanyakan generasi muda saat ini.

Seluruh kue kering khas Aceh dan Aceh Besar serta kue basah yang disajikan Juariah, diakuinya bukan hasil buatan tangannya secara menyeluruh, tapi juga menampung kue yang diproduksi oleh masyarakat sekitar yang memang sudah menjadi home industri bagi sejumlah jenis kue tradisional di daerah itu.

Kecuali itu,juga ditampung sejumlah kue trandisional yang diproduksi di luar gampong setempat, namun hampir seluruh jenis kue yang dijual Kak Neh merupakan kue trandisional dan sebahagian kecil kue yang termasuk bukan kue tradisional, guna memenuhi permintaan pelanggan saja.

Kedai Kak Neh ini, selain menyediakan pembelian langsung oleh setiap pengunjung, juga siap menyediakan pesanan kue dalam jumlah partai besar, misalnya kebutuhan kue trandisional untuk hidangan pesta antar pengantin pria (intat linto), oleh oleh buat kantoran, buah tangan`untuk tamu istimewa.

Soal harga, dijamin terjangkau tergantung bentuk dan ukurang kue. Untuk saat ini kue yang disediakan Kak Neh dibandrol dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu perbuah atau perkemasan, sehingga pembeli tidak diharuskan mengeruk gocek lebih dalam untuk menikmati kue bolu ikan yang disediakan Kak Neh,cukup sepuluh ribu pembeli sudah dapat menikmati kue yang disediakan kak neh sambil berlalu dilintas Banda Aceh- Meulaboh itu.(***)

Bangun Home Industri Kue Bermodal Rp 50 ribu

Dewi Murni (45) Warga Gampong Lampisang Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar adalah satu dari sejumlah pemilik Home Industri kue Trandisional di daerah destinasi wisata kuliner Kue Trandisional Aceh dan Aceh Besar. Wanita berkulit sawo matang ini memiliki pengalaman pahit dalam membangun usaha  produksi kue yang kini mulai menjadi kebanggaan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar itu.

Kepada media ini, Dewi Murni yang saat itu sedang menggeluti produksi kue trandisional Aceh jenis bolu ikan dan karah itu menceritakan, bahwa usaha yang kini sudah mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarganya itu hanya bermodal Rp 50.000,-. Getir pahit dirasakan Dewi dalam membangun usaha tersebut. Suaminya yang berprofesi sebagai tukang kayu hingga saat ini memacu semangatnya untuk menantang alam melahirkan sebuah usaha yang mampu membantu ekonomi keluarga, apa lagi putra putrinya kian hari terus benajak remaja, tentu akan membutuhkan keuangan yang lebih banyak.

Modal yang dimiliki senilai Rp 50.000 itu, dengan berupaya menahan nafsu untuk berbelanja hal lain. Dewi hibahkan untuk menjadikan modal kerja, dengan membelikan beberapa jenis bahan untuk memproduksi satu jenis kue trandisional yaitu Bolu Ikan.

Saat itu, Dewi dengan uang sejumlah itu dapat membelanjakan dua papan telor ayam ras, tepung dan gula pasir. Perjuangan Dewi  tidak  cuma pada mampu bersabar menahan nafsu membelanjakan uangnya kepada fashion atau peralatan rumah tangga lainnya, tapi Dewi harus berhadapat dengan musibah yang nyaris hilang seluruh modal yang sedemikian kecilnya itu, dimana sambil berlalu beranjak pulang ke rumah untuk memulai usaha yang kini telah membuka lapangan kerja bagi 5 orang lainnya di gampong tersebut. Salah satu papan telur yang dibelinya terjatuh dan hancur hampir tidak dapat digunakan seluruhnya lagi.

Namun, dengan penuh kesabaran meski diiringi dengan butiran air mata pula,  Dewi saat itu karena bahan pembuatan kuenya rusak, berhasil diselamatkan sebahagian besar. Dengan semangat pantang menyerah, Dewi dengan penuh hati hati mulai bergelut dengan sejumlah bahan kuenya dan menghasilkan kue bolu ikan meski tidak mencapai sebagaimana yang ditargetkan ideal hasil perpapan 90 buah kue bolu ikan.

Sejumlah kue yang dibuat saat itu langsung dititipkan ke pedagang yang telah berjejer di sepanjang jalan nasional itu dan proses produksi yang dimulai pada hari penuh duka itu terus dijalankan Dewi yang juga sesekali dibantu oleh sang suami untuk pekerjaan yang dianggap butuh bantuan pihak lain oleh Dewi Murni.

Sehingga hampir 12 tahun berjalan, jumlah produksi Kue Trandisional milik Dewi Murni terus meningkat dan kini setiap hari sedikitnya menggunakan paling kurang 5 orang tenaga kerja untuk menyelesaikan pengerjaan sejumlah jenis kue yang diproduksinya. Pesanan kerab melonjak ketika musim liburan dan bulan ramadhan tiba.

“Bulan puasa paling sedikit perhari menghabiskan bahan baku sepuluh kilogram, tapi kalau hari biasa begini enam hingga tujuh kilogram tepung sebagai bahan baku perjenis kue,” kata Dewi Murni.

Kecuali untuk menunjang ekonomi keluarga, dewi mengaku optimisnya dalam bergelut industri kue trandisional itu juga sebagai bentuk perjuangan mengisi kemerdekaan dengan Negara Republik Indonesia dengan cara melestarikan makanan khas daerah dan mencegah hilangnya budaya bangsa.

Sekarang, Dewi Murni selain disibukkan oleh pesanan ratusan buah kue Trandisioal itu juga disibukkan mendidik dua putrinya yang saat ini duduk di bangku kuliah, untuk dapat diturunkan ilmu produksi makanan khas Aceh Besar itu. mereka (putri putrinya) diberikan tugas untuk mengelola pengerjaan pebuatan kue tersebut secara bergiliran dan berganti jenis kue, mengingat pengalamannya yang bergerak dari modal yang sangat miris dan keberanian didukung oleh ilmu otodidak, tapi mampu melahirkan sebuah usaha industri rumah tangga yang mampu menyediakan ratusan hingga ribuan kue trandisional setiap bulanya.

Ia berharap, ilmu yang didasari dari pengalaman itu mampu diturunkan kepada anak anaknya dan dapat berdikari dalam upaya membangun ekonomi mandiri masing maisng kedepan, serta diharapkan anak anaknya mampu melahirkan industri yang jauh lebih besar dari saat ini dan menampung banyak masyarakat sebagai  lahan mencari rezeki yang berkesinambungan.

“Saya berharap anak anak saya mampu membangun usaha ini hingga menjadi sebuah usaha yang mampu memebrikan manfaat bagi lebih banyak orang lain dan pelestarian budaya daerah dibidang makanan ringan ini,” demikian kisah dan harap Dewi Murni. (***)

Butuh Bimbingan Bidang Pengemasan  dan Lebel Halal

Dari sejumlah pedagang dan produsen kue trandisional di kawasan Kuliner Kue Trandisional Aceh Besar di Gampong Lampisang Kecamatan Lhok Nga, mengaku belum memiliki kemasan yang keren dan moderen serta lebel halal akan produk yang dihasilkan selama ini.

Memang seluruh makanann ringan jenis kue tradisional itu diproduksi warga dalam kondisi bersih dan steril. Namun pengemasannya masih dilakukan dalam kemasan peking biasa yang dijual di pasaran. Diharapkan ada pihak yang dapat memfasilitasi mereka untuk kearah sana, supaya produk kue trandisional yang diproduksi secara turun temurun itu lebih terlihat elegen dan berdaya saing. Kecuali itu untuk lebel halal yang dikeluarkan oleh Lembaga MPU di dalam daerah bersangkutan, turut berharap untuk dapat disambung tali hubungan antara pelau kuliner dengan pihak terkait.

“Kami tidak tahu bagaimana menghasilkan kemasan yang bagus dan mengajukan rekomendasi produk halal ke MPU, semoga pemerintah dapat menyambung hubungan kami dengan pihak terkait,” kata Dewi Murni dan Juariah saat ditemui media ini di tempat usahanya pekan lalu.

Menurut Dewi, lebel halal itu sangat berpengaruh ketika sejumlah produk yang dijajakan hendak dibeli oleh para turis, terutama turis mancanegara , dari negara Islam yang sempat pernah mengunjungi tempat usaha mereka. Bahkan tidak jarang para turis manca negara itu menolak membelinya, setelah tidak tertera lebel halal di kemasan.

“Padahal produk kita semuanya halal, tapi akibat tidak tertera lebel halal, terkadang ada yang menolak membelinya,” demikian kata Juariah atau Kak neh.

Para pedagang dan produsen kue kering Tradisional Aceh dan Aceh Besar ini, berharap agar mereka difasilitasi untuk dapat memperoleh lebel halal itu dan solusi mendapatkan kemasan yang layak bagi kue  yang dijajakan selama ini. Kecuali itu, juga meminta kepada pemerintah untuk dapat menyediakan kepadanya akan kegiatan peningkatan sumber daya manusia (SDM) seperti pelatihan agar mampu melahirkan sejumlah kue kue lain sekaligus memperdalam pengetahuan tentang kue trandisional tersebut, sehingga segala hal yang dihasilkan benar benar dengan pengetahuan yang baku bukan hanya sekedar reka reka semata seperti yang sedang dijalankan selama ini.

“Kita mengharapkan didikan dan pembinaan yang lebih komplit dari pemerintah terkait pengetahuan tentang makanan trandisional Aceh ini, sehingga seluruh makanan tnadisional Aceh dan Aceh Besar dapat kita sajikan kepada publik,” demikian pintanya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *