Anyaman Rotan Perajin Aceh Besar Goda Turis

Tidak  terkecuali turis lokal atau manca negara, yang jelas setiap pelancong yang singgah di daerah Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar bakal akan mengerukkan kantongnya demi sebuah Souvenir  anyaman yang dipajang di sepanjang Jalan Banda Aceh –Meulaboh itu setiap hari.

Tudung saji

Souvenir  anyaman rotan yang dihasilkan oleh tangan tangan trampil masyarakat di Gampong (Kampung) sepanjang  lintas Jalan Nasional menuju Meulaboh itu, sangat cantik dan indah serta penuh nilai seni.

Berbagai jenis anyaman yang dipajangkan dengan harga yang sangat terjangkau. Seperti tutup saji, keranjang, tempat kain kotor, talung untuk hidangan maulid, ayunan bayi, pot bunga, keranjang buah, keranjang parsel, bahkan sampai cassing lampu hias turut disediakan.

Bicara soal harga beragam anyaman rotan khas hutan Aceh Besar itu dibandrol dengan harga yang cukup pantastis, sehingga pengunjung tidak harus menguras koceknya lebih dalam. Bahkan ada Souvenir  yang dijual dengan harga Rp 10 ribu rupiah perbuah, seperti pot bunga, keranjang bunga.

Harga dipatok sesuai dengan besar dan kebutuhan bahan yang dibutuhkan saat pembuatan dikerjakan.

Kecuali harga yang terjangkau anyaman yang berbahan baku dari rotan itu, diyakini memiliki keunggulan lainnya yang cukup banyak, diantaranya tahan lama, harga terjangkau, tidak mudah rusak, dan tentunya masih meiliki budaya cinta produk lokal.

Pada hari hari biasa,  ayaman yang kerab menjadi permintaan pengunjung berupa tutup saji, pot bunga, kerajang buah dan kerajang kain kotor. Sedangkan  keranjang parsel dan talung hidangan maulid pesanannya musiman, yaitu bulan maulid, lebaran atau tahun baru.

Untuk perunit barang Souvenir  itu, pedagang hanya mengambil keuntungan 10-20 persen dari modal yang dikeluarkan, misalnya sebuah keranjang kain kotor ukuran sedang jumlah modal yang dikeluarkan lebih kurang Rp 150.000 dan dijual Rp 180 ribu. Artinya, harga sangat tergantung padaukuran dan bentuk Souvenir  yang diinginkan.

Tapi, harga tertinggi yang pernah dijual pedagang sekaligus perajin ayaman di Gampong Aneuk Paya Kecamatan Lhoknga itu, hanya Rp 350.000 berupa sebuah keranjang pakaian kotor dengan ukuran besar.

“Paling tinggi harga ayaman yang kita miliki tiga ratus lima puluh ribu rupiah, dan paling murah sepuluh ribu,” kata Marlini, yang diampingi suaminya Ajir HR saat dikunjungi tim media ini ke lokasi usahanya berada.

Kecuali menyediakan Souvenir  anyaman rotan telah jadi, keluarga yang telah dikaruniai tiga orang buah hati itu juga menerima pesanan pembuatan berbagai jenis Souvenir  berbahan anyaman rotan.

“Ini sedang kita siapkan pesanan keranjang parsel dari salah satu instansi, “ demikian tambah dan tutup Ajir. (***)

Harus Ikuti Perkembangan Zaman dan Modernisasi

Meski produk lokal Aceh berupa anyaman rotan dan pekerjaan tersebut telah berlangsung sejak zaman dahulu dan secara turun temurun,namun bukan berarti cukup dengan dengan modal menganyam semata, tapi harus mampu membaca pangsa pasar dan trending yang sedang terjadi.

Ajir HR alias Polem

Ajir (Polem) salah seorang perajin dan penampung kerajinan rotan di Gampong Aneuk Paya Kecamatan Lhok Nga Aceh Besar, mengaku agak sedikit repot dengan trend permintaan pasar yang kian hari terus berubah ubah. Baik dalam segi ukuran desainnya bahkan bahan anyaman yang perlu diutamakan.

Gerak modernisasi sangat mempengaruhi kerjanya, dimana para perajin harus menyajikan sesuai dengan keinginan pelanggan, tidak cuma itu perubahan gaya dan trend tersebut juga dengan tidak mengurangi nilai seni khas abyaman budaya setempat.

“Tren permintaan terkadang kerab menjadi bingung, sebab meski dibalut modernisasi, tapi khas dari anyaman tersebut tetap menjadi prioritas utama pelanggan,” katanya.

Misalnya saja keranjang buah, harus dirancang dengan ukuran yang unik dan modoren,tapi bukan berarti mengikuti gaya keranjang berbahan lain, tapi tetap gaya khas ayaman rotan harus ditonjolkan.

Di satu sisi lanjut Ajir, menyenangkan bagi perajin sebab bukan menjual Souvenir  ceplakan, tapi saat mempelajari agar menghasilkan hal terbaru dalam menyajikan produk-produk ayaman bukanlah suatu hal yang gampang untuk dicapai.

“Kita harus terus mengkuti trend trend terbaru agar pelanggan tidak jenuh,” demikian timpalnya.

Pun demikian, pria yang notaben pribumi (istilah lokal; Asoe Lhoek-red) Kecamatan Lhok Nga ini, mengaku siap menyajikan Souvenir  berbahan rotan dengan berbagai model dan manfaatnya, sehingga pelanggan puas dan terus cinta dengan produk lokal.

“Hampir seluruh peralatan rumah tangga telah digunakan dalam bentuk anyaman,dan itu sangat memberikan kebanggaan bagi kami pelaku kerajinan ayaman rotan ini, semoga hal ini terus mejadi tradisi masyarakat kita dan dapat terimplementasikan kepada turis yang datang,” harap Ajir.

Untuk waktu sehari,lanjut Ajir dirinya hanya sanggup memproduksi kerajinan ayaman rotan itu satu hingga tiga buah, tergantung bentuk dan ukurannya. Namun jumlah produk serupa bisa mencapai puluhan buah perhari, karena dirinya juga menampung produk warga setempat.

“Jika hanya mengandalkan tenaga  saya  seorang hanya mampu produksi satu atau dua, tapi seluruh produk masyarakat juga kita tampung,makanya jumlah produk kerajinan tersedia cukup setiap saat,” demikian terang dan tutup Ajir. (***)

Bahan Baku Mulai Berkurang  dan Mahal

Bahan baku merupakan penentu lancar tidaknya suatu produksi dihasilkan dengan rutin dan berkesinambungan. Para perajin anyaman rotan di Kabupaten Aceh Besar, terutama warga Lhok Nga, kini mulai mengeluhkan ketersediaan bahan baku berupa rotan kecil yang dominan digunakan untuk menghasilkan sebuah  kerajinan anyaman.

Cangkrang Lampu hias

Kecuali mulai langka harga bahan baku yang diperoleh juga dengan harga yang sudah cukup melonjak  dari tahun sebelumnya. Untuk  1 kilogram rotan kecil perajin harus mengeruk koseknya hingga Rp 14-15 ribu rupiah. Sedangkan sebelumnya harga rotan kecil itu hanya berkisar Rp 8-10 ribu saja.

Akibatnya, sejumlah barang anyamannya terpaksa dinaikkan harganya. Kendala tidak cuma dirasakan pada langka dan mahalnya bahan baku, tetapi juga ongkor kerja yang meningkat juga mempengaruhi nilai jual lebih tinggi.

Menurut pengakuan para perajin rotan di Kawasan perajin rotan di Kecamatan Lhok Nga, untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, perajin terkadang juga harus meminta pasokan dari luar daerah dengan harga yang jauh lebih mahal hingga tiga kali lipat. Meski kualitas yang jauh lebih bagus dan sudah terjamin daya tahannya serta dapat menghasilkan Souvenir  yang bermutu tinggi, tapi nilai jual terkadang sangat memberatkan pembeli karena jauh lebih mahal dari harga Souvenir  berbahan baku lokal.

Kendala yang tidak kalah rumitnya, paska berkurangnya bahan baku lokal, adalah modal untuk memasukkan bahan baku dari luar untuk memenuhi permintaan pelanggan.

“Terkadang  kita harus merelakan terbuang waktu, akibat kehabisan bahan baku, sedangkan untuk mendapatkan bahan baku harus dibayar secara cash, tidka boleh berutang, sedangkan produk yang dipesan belum dibayar secara lunas, kita berharap ada solusi dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini,” harap Ajir yang didampingi istrinya saat itu. (***)

Butuh Pembinaan  Skill dan Dukungan Peralatan

Umumnya perajin anyaman rotan di Kecamatan Lhok Nga, masih melakukan kegiatannya dengan peralatan manual. Menggunakan pisau berbagai ukuran, membelah rotan dan menjemur rotan, serta rotan yang digunakan masih seperti bentuk saat dikutip dari hutan. Padahal tidak seharusnya cara bekerja mereka hanya mengandalkan sistem trandisional seperti pada zaman nenek moyang dahulu.

Kasubbid Promosi Pariwisata, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Aceh Besar, Ruli Hafidhat, SE, MM (kanan) berbincang bincang dengan dengan Ajir

Ajir harus salah seorang perajin dan penampung kerajianan ayaman rotan di Kecamatan Lhok Nga yang ditemui media ini mengaku, cara kerja yang digeluti selama ini masih menggunakan cara manual, dengan menjemur rotan, membersikah dan membelah baru digunakan untuk penganyaman. Untuk mengahsilkan berbagai bentuk pengolakan bahan baku dirinya mengandalkan keahliannya dalam membelah rotan hingga menghasilkan ukuran sebagaimana yang diinginkan. Sangat menguras waktu, dan tidak optimal hasil yang diperoleh.

Seharusnya, mereka tidak lagi hanya mengolah bahan baku secara manual, tapi sudah sepantasnya difasilitasi oleh berbagai pihak yang bertanggungjawab atas skill yang dimiliki masyarakat tersebut. Kecuali tidak didukung oleh peralatan yang memadai, sejumlah perajin anyaman rotan setempat juga mengaku jika mereka terjun ke dunia kerajinan rotan tersebut dengan modal skill otodidak alias keahlian turun temurun. Diharapkan kedepan adanya pihak yang memfasilitasi mereka agar mendapat skill yang murni dalam soal anyaman tersebut dan mampu mereka kembangkan kearah yang lebih baik lagi.

“Umumnya kami keahlian dari turun temurun, bukan dari hasil pelatihan atau pendidikan formal atau non formal,” kata Ajir.

Ajir mengaku, sangat senang jika ada pihak yang bersedia memfasilitasi dirinya dan seluruh perajin anyaman rotan di kawasan itu, untuk diberikan pendidkan non formal dalam bidang pengembangan kerajinan rotan tersebut. Apa lagi, dapat didukung oleh peralatan yang dapat mempermudah pengelokhan bahan baku untuk diproduksi berbagai kerajianan, dan itu sudan menjadi impian para perajin ayaman rotan setempat sejak puluhan tahun lalu.

Dukungan permodalan dengan bunga rendah, juga menjadi harapan para perajin setempat, mengingat kebanyakan perajin telah menggantungkan hidupnya pada kerja ayaman dimaksud.

“Kami sudah memfokuskan ekonomi pada kerja perajin ini, maka tentu kami harus mampu bersaing dengan zaman, agar kami tidak tergilas oleh moderisasi dan gagal menyajikan produk yang terbaru, semoga kami juga mendapat bimbingan lebih dari pemerintah supaya kerajinan ini dapat terus kami lestarikan,” demikian pesan Ajir mewakili puluhan perajin di Kecamatan Lhok Nga saat itu. (***)

Aminah, Wanita Sukses di Anyaman Rotan

Desa Keude Bieng, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kerajinan rotan rumahan. Setidaknya di sepanjang jalan utama Banda Aceh–Meulaboh Kilometer 11 itu terdapat lebih dari 10 tempat penjualan berbagai jenis kerajinan khas Aceh yang terbuat dari bahan baku rotan.

“Sekarang di Keude Bieng sudah banyak yang memiliki usaha kerajinan rotan, tapi yang pertama sekali usaha ini punya kami sejak tahun 1990. Rotan Dua Bersaudara ini saya teruskan dari usaha yang dirintis almarhum ibu saya,” kata Aminah (40), pengusaha kerajinan Rotan itu.

Aminah mengaku sudah lima tahun meneruskan usaha kerajinan itu dan mampu memproduksi 50 jenis model kerajinan tangan, misalnya tas, koper, tempat bola lampu listrik, tudung saji, tempat kue, tempat ikan, keranjang parsel, bunga, tempat cucian, kursi, meja, dan berbagai alat kebutuhan rumah tangga.

 “Alhamdulillah sekarang sudah ada 50 jenis kerajinan tangan dari rotan saya buat. Kalau sedang banyak order, saya ajak warga di sini untuk bantu membuat sampai 20 orang. Tapi kalau lagi sepi, saya buat sendiri dan dibantu oleh satu orang tenaga tetap,” katanya.

 Usaha Rotan “Dua Bersaudara” milik Aminah yang menampung 20 orang wanita tenaga kerja lepas itu kini mampu memproduksi tas dan koper dari rotan dengan kualitas dan model yang siap bersaing di pasaran saat ini.

 “Tas dan koper adalah produk terbaru kami. Alhamdulillah tas sudah 50 buah dalam beberapa bulan ini, dengan harga Rp 800.000 sesuai dengan kualitas,” ujar Aminah.

Usaha kerajinan tangan miliknya itu biasanya kebanjiran order saat menjelang bulan suci Ramadhan dan hari raya, seperti keranjang parsel dan tudung saji. Saat seperti itu omzetnya bisa mencapai Rp 30 juta dalam satu bulan.

 “Kalau menjelang puasa dan Lebaran banyak order keranjang parsel dan tudung saji. Natal dan tahun baru juga banyak. Kemarin lima hari kami dapat omzet Rp 15 juta. Itu banyak pembelinya wisatawan,” demikian ujar  Aminah.(**)

Dipublikasi Oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Aceh Besar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *