Khanduri Laot Festival 2019: Dari Sabang Untuk Indonesia

Pemerintah Kota (Pemko) Sabang telah memprogramkan dalam agenda tahunan kegiatan, Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir Khanduri Laot Festival 2019 yang memaknai dari Sabang untuk Indonesia. Hal tersebut telah disepakati pada rapat persiapan berlangsung di Aula Kantor Walikota beru-baru ini. 

Dalam rapat persiapan yang dipimpin langsung, WaliKota Sabang Nazaruddin,S.I.Kom, dikatakan, pergelaran event Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir Khanduri Laot merupakan event kearifan lokal yang telah menjadi agenda tahunan bagi Pemko Sabang. Bahkan dari laporan Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Sabang Ramlan Yahya, pelaksanaan Khanduri Laot siap diger pada tanggal 30 hingga 1 April mendatang..

Pergelaran Khanduri Laot kemungkinan akan berbarengan dengan Sabang Marine yang juga dilaksanakan setiap tahunnya oleh Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), dipastikan pergelaran tersebut akan berdampak pada kunjungan wisatawan dunia ke Sabang,kata Tgk Agam nama akrab Nazaruddin.

Diharapkan, pergelaran Festival Khanduri Laot yang kedua kali ini, dapat dipadukan dengan seni budaya yang ada di Aceh seperti, tarian dari Tapak Tuan Aceh Selatan, tarian Likok Pulo Sabang dan tarian-tarian lainnya. Sehingga nantinya menjadi Festival yang membawa tradisi dan adat budaya Aceh ke mata dunia.

Dalam pelaksanaan Festival Khanduri Laot 2019 ini, juga akan diadakan berbagai lomba, salah satunya adalah, lomba “Kuwah Beulangong”, lomba Boat Teb-Teb, Khanduri Aulia 44 Keramat, dialog Panglima Laot se-Aceh dan juga atraksi-atraksi lainnya yang bernuasa kearifan lokal, jelas Tgk Agam.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Sabang Faisal, selain atraksi seni budaya Aceh, dalam kegiatan tersebut juga ada permintaan dari persatuan kebudayaan laut dari provinsi lainnya di luar Aceh untuk ikut serta dalam festival budaya itu.

Seperti pengurus kebudayaan laut dari provinsi Sumatera Utara, Provinsi Riau dan Sumatera Selatan. Ketiga provinsi tersebut, sudah menyatakan untuk ikut serta pada Festival Khanduri Laot 2019 di Sabang yang akan digelar pada tanggal 30 hingga 01 Maret 2019 di pelabuhan CT-3 BPKS itu, terang Faisal.

Pada pergelaran Festival Khanduri Laot yang kedua ini, seluruh instansi pemerintah, TNI/Polri, pengusaha dan elemen masyarakat dapat terlibat, sebagai kegiatan kebanggaan rakyat Aceh. Dengan kesuksesan pelaksanaanya dipastikan Sabang semakin terkenal.

Pada kesempatan yang sama, Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Sabang Ramlan Yahya menyampaikan, pelaksanaan Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir Khanduri Laot Festival 2019 untuk Indonesia, tidak hanya diikuti peserta dari Sumatera saja, tetapi juga keinginan negara tetangga Malaysia ingin ikut serta.

Karena negara Malaysia merupakan serumpun dengan Indonesia yang juga rakyatnya bersuku melayu, maka keinginan masyarakat melayu negara Malaysia dalam pergelaran Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir Khanduri Laot Festival 2019, patut kita apresiasi,” pungkas Ramlan Yahya, yang juga pelantun lagu Marselina ini..(*)

Asa Dibalik PBL Mahasiswa Norwegia 

Pemerintah Kota Sabang pada 13 Februari 2019 lalu kedatangan 10 mahasiswa Inland Norway University (INU). Kedatangan 10 mahasiswa tersebut dalam.rangka bentuk kerjasama bidang kesehatandalam pertemuan dengan Wakil Walikota Sabang, disampaikan beberpa poin tentang kesehatah kedua Negara.

Selama berada di Sabang ke 10 mahasiswa melakukan Praktek Belajar Lapangan (PBL) bersama mahasiswa Yayasan Akper Ibnu Sina (AKIS) Kota Sabang, yang merupakan salah satu lembaga pendidikan kesehatan terbesar  yang ada di Sabang.

Menurut Dosen Akper Ibnu Sina Kota Sabang Samarullah, kedatangan tamu 10 mahasiswa Inland Norway University, untuk melakukan praktek belajar lapangan bersama Mahasiswa Akper Ibnu Sina di Gampong (desa) Jaboi, Sabang, dalam rangka memperkenalkan tatacara kerja mahasiswa-mahasiswi Akper Ibnu Sina., kata   Samarullah..

Samarullah menjelaskan, ke 10 mahasiswa tersebut didampingi seorang Dosen INU, Anne Trolvik, selama melakukan PBL di Sabang, yang dilaksanakan dari tanggal 10 Februari sampai dengan 3 Maret dan fokusnya pada bidang kesehatan masyarakat.

Selama PBL di Sabang, 10 Mahasiswa Norwegia dan Mahasiswa AKIS akan mendata sejumlah penyakit yang bisa diderita masyarakat setempat, pengelolaan sampah, tentang gizi anak sekolah dan pengelolaan air bersih. Selain itu juga, mempelajari masalah kepribadian masing-masing.

“Alhamdulillah Pemerintah Kota Sabang yang diwakili  bapak menyambut posistif kerjasama ini, diharapkan kerjasama tersebut terus berlanjut demi peningkatan pendidikan di bidang kesehatan,” jelas Samarullah.

Sekda Kota Sabang Drs Zakaria,MM menambahkan, Mahasiswa AKIS dijadwalkan akan melakukan Praktek Belajar Lapangan ke Norwegia dalam rangka pertukaran mahasiswa. Sehingga, siswa AKIS juga akan belajar selama berada di Norwegia, tentang tata cara dan bagaimana mereka memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Yang pasti Pemko Sabang menyambut baik kerjasama tersebut dan akan mendukung penuh, selama pelaksana PBL mahasiswa dari Norwegia itu di Sabang.

“Pada prinsipnya Pemko Sabang sagat mendukung kegitan ini bahkan, pemerintah daerah telah mengalokasikan dana untuk peningkatan fasilitas Akper Ibnu Sina, guna peningkatan kegiatan belajar siswa-siswi di lembaga itu. Sekda Kota Sabang juga mengharapkan, kunjungan Mahasiswa INU ke Kota Sabang dapat meningkatkan kerjasama sekaligus mempromosikan sektor pariwisata yang ada di Sabang”, harap Zakaria.(*)

Mendukung Kick Off Meeting Dengan Unicef 

Untuk menjaga kesehatan bagi ibu dan anak dalam keluarga Pemerintah Kota (Pemko) Sabang dukung kerjasama Kick off Meeting dengan Unicef. Kerjasama dengan Unicef tersebut dalam upaya pengentasan Malnutrisi Ibu dan Anak di Kota Sabang. 

Kepala perwakilan Unicef Aceh, Andi Yoga Tama, mengatakan pertemuan awal Kick off Meeting yang merupakan starting poin kerja sama ini dirasa perlu dilakukan, mengingat Aceh sebagai daerah dengan stunting tertinggi di Indonesia. Dengan demikian minimal dapat terjaga dari awal bagi kesehatan ibu dan anak.

“Berdasarkan data bahwa paling banyak stunting di Aceh, sekitar 30- 40% berdasarkan data Dinkes, hampir rata seluruh Aceh. Malnitrisi ini sebetulnya salah satu yang berkontribusi terhadap stuting, karena bahaya dari malnutrisi atau stanting, berpengaruh pada perkembangan otak anak maka, pihak unicef menjadi perhatian khusus bagi Aceh dan Sabang nantinya akan menjadi contoh terbaik” kata Andi Yoga.

Dijelaskan, hal tersebut akan berdampak kepada kemiskinan, karena dengan kurangnya gizi dari anak dimaksud, sangat mempengaruhi nutrisi otak. Dengan demikian anak tidak dapat mencapai potensi yang dimilikinya secara utuh, sehingga pencapaian kesuksesan si anak akan terhambat.

Oleh karenanya, dalam rangka mengatasi hal dimaksud Unicef akan terus mendukung Pemerintah Kota Sabang, dengan menempatkan dua orang konsultan baik di Bappeda yang akan bertugas mengkoordinasi program yang telah ditata dan satu konsultan lainnya akan bertugas di dinas kesehatan penanganan teknis kesehatan, serta dibantu oleh tiga orang implenting patner dari Flower Aceh.

Pemko Sabang merupakan daerah yang sangat perduli terhadap kesehatan dan pendidikan masyarakat sampai-sampai anak usia sekolah dari SD hingga SMA mendapat biaya bantuan sekolah yang sangat besar. Itu belum lagi beasiswa bagi yang menuntut ilmu di universitas.

“Belum ada dari lain dimana pun yang mampu melakukan pembiayaan bagi pendidikan dan kesehatan seperti yang Pemerintah Kota Sabang, maka anak-anak usia sekolah semua terdidik dan terjaga kesehatannya”., jelasnya.

Sementara itu Walikota Sabang Nazaruddin, S.I.Kom, pada pembukaan acara tersebut menyampaikan melalui program tersebut Pemerintah Kota Sabang bersama Unicef akan mewujudkan generasi penerus Kota Sabang tanpa stuting, sehingga menjadi daerah tersebut di negeri ini.

“Dari data yang ada 2000 balita di Sabang, sekitar 500 orang itu stanting. Umur 6 tahun berat badan gak naik- naik. Jadi kita tidak mau lagi anak Sabang dari 5 anak satu stanting. Maka, melalui program ini kita sama- sama yakin Insya Allah 5 atau 10 tahun kemudian, anak- anak kita ada yang kekurangan gizi.” ujarnya.

Untuk itu, diminta kepada seluruh warga Sabang untuk mendukung program yang akan dijalankan pemerintah bersama Unicef ini, guna menakan angka kemiskinan serendah- rendahnya di kota Sabang ini. Selain program ini kata Walikota, program pemberantasan kemiskinan jauh- jauh hari pun telah dan akan diteruskan di kota Sabang, baik melalui dana beasiswa pendidikan, listrik dan gas LPG gratis, serta rumah duafa.

“Pemko Sabang telah melakukan berbagai upaya dalam rangka mencerdaskan bangsa dan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, dengan menyalurkan bantuan biaya sekolah dari SD hingga SMA. Bahkan, yang menuntut ilmu di universitas diberikan beasiswa”., kata Walikota.(*).

Wali Kota Sabang Survey Rencana Pembangunan Bandara                     

Walikota Sabang, Nazaruddin S.I.Kom, telah melakukan peninjauan atau survey lokasi rencana pembangunan Bandar Udara Internasional di Kawasan Ujong Seuke, Gampong (Desa) Anoi Itam, Kecamatan Sukajaya, Sabang, Provinsi Aceh. Setelah dilihat langsung ternyata sangat cocok lokasi pembangunan Bandara Internasional di Ujung Seuke itu..

Nazaruddin menjelaskan, Pemerintah Kota (Pemko) Sabang telah mengusulkan tiga lokasi rencana pembangunan Bandara Internasional ke Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, sesuai kebutuhan Bandara Internasional yaitu butuh lahan panjang sekitar, 3.000-3.500 meter dengan luas lahan sekitar 40 hektar.

Oleh sebab itu Pemerintah Kota Sabang telah menyiapkan tiga lokasi yakni, Ujong Seuke (Anoi Itam), Bango (Keuneukai) dan Beurawang. Dan hasil survey bersama para sejumlah Muspida di Ujong Seuke, Anoi Itam sangat cocok untuk pembangunan Bandara Internasional.

“Kita berharap pemerintah pusat dapat membangun Bandara Internasional di Sabang untuk mendukung pengembangnan industri pariwisata pulau terluar paling barat Indonesia ini. Sabang sangat mendesak adanya sebuah bandara sipil, untuk mendukung pariwisata” harap Tgk Agam.

Bahkan tambahnya, Pemerintah Kota Sabang telah menyiapkan lahan seluas 40 hektare untuk pembangunan Bandara Internasional di Sabang, ada tiga lokasi lahan yang disiapkan. Hasil dari survei telah diserahkan ke Kementerian terkait.   Kementerian Pariwisata sebelumnya menyatakan, Kota Sabang merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan sudah seharusnya daerah tersebut memiliki bandara baru guna meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun internasional.(Jalaluddin Zky).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *