Biadab! Muslim Uighur China Dipaksa Makan Daging Babi

Warga muslim di wilayah barat Cina, Xinjiang termasuk warga Uighur dipaksa menyantap daging babi dan minum minuman beralkohol di sejumlah acara yang digelar selama liburan Tahun Baru Imlek, beberapa waktu lalu. Demikian klaim warga  Xinjiang dan Uighur seperti diungkap Radio Free Asia (RFA).

Dikutip dari DailyMail, Senin 911/2/2019) warga di Prefektur Otonomi Ili Kazakh mengaku diundang untuk makan malam di mana daging babi dan alkohol disajikan. Laporan Radio Free Asia, pejabat setempat mengancam akan mengirim warga ke “kamp pendidikan ulang” jika menolak undangan.

Tahun ini Tahun Babi.

Restoran halal di kawasan muslim Cina.

Foto yang dikirim ke RFA juga menunjukkan seorang pejabat Cina di Kota Yining mengunjungi rumah warga muslim dan membagikan daging babi mentah pada hari Senin, jelang Tahun Babi. Tak itu saja, warga muslim pun dipaksa memajang dekorasi Tahun Baru Cina seperti lentera merah di pekarangan rumah.

Baik babi maupun alkohol dilarang dalam Islam dan Tahun Baru Imlek pun biasanya tidak dirayakan oleh umat Islam Xinjiang. “Orang Kazakh di Xinjiang tidak pernah makan babi,” kata seorang warga yang tidak disebutkan namanya kepada RFA. “Mulai tahun lalu, beberapa orang terpaksa makan daging babi dan merayakan festival Han ini.”

“Perayaan kami Idulfitri dan Iduladha. Festival Musim Semi untuk orang Cina Han dan pemeluk agama Buddha,” kata seorang perempuan Kazakh bernama Kesay kepada RFA.  Ia melanjutkan, warga yang tidak memasang dekorasi atau lentera dituding bermuka dua. “Kita bisa dikirim ke kamp pendidikan ulang jika menolak.” Para pejabat mulai mengirim daging babi ke sekitar 80 persen warga Kazakh di wilayah Savan sejak akhir 2018.

“Kamp pendidikan ulang”.

Dilxat Raxit, juru bicara kelompok pengasingan Kongres Uighur Dunia, mengatakan mereka telah menerima laporan serupa. “Menurut informasi kami, pemerintah Cina meningkatkan kampanye untuk mengasimilasi warga Uighur ke dalam budaya Han Cina,” katanya. “Mereka memaksa orang-orang Uighur merayakan Tahun Baru Imlek dan memasang kuplet dekoratif.”

Mereka juga memaksa warga Uighur  minum alkohol untuk menunjukkan mereka tidak menganut  agama yang ekstrem dan menghormati budaya tradisional Cina. Sebelumnya PBB memperkirakan ada sekitar satu juta warga Uighur dan minoritas muslim lainnya yang diyakini ditahan dalam penahanan di luar hukum di Xinjiang. Perkiraan PBB ini memicu kemarahan internasional.

Wilayah yang sama menjadi rumah bagi lebih dari 10 juta warga etnis Uighur. Tahanan yang dianggap menolak bekerja sama ditempatkan di sel isolasi dan mengalami pemukulan selain  kekurangan makanan. Mantan tahanan yang telah bebas  juga mengklaim mereka dipaksa makan daging babi dan mengonsumsi minuman beralkohol sebagai hukuman di dalam kamp.

“Kamp pendidikan ulang”

Sementara itu pihak Beijing sendiri awalnya membantah keberadaan kamp pendidikan ulang. Namun Oktober lalu ketua pemerintah Xinjiang, Shohrat Zakir   kepada kantor berita resmi Xinhua mengatakan, kamp tersebut tak lebih dari fasilitas efektif untuk melindungi negara dari terorisme sekaligus  memberikan pelatihan kejuruan bagi warga Uighur.

Sedangkan laporan yang diterbitkan LSM Kristen, ChinaAid menyebut umat Islam di Xinjiang dipaksa  ambil bagian dalam perayaan tahun baru pada pertengahan  Februari lalu. Dan Oktober tahun lalu, pejabat di Urumqi, ibu kota Xinjiang melancarkan kampanye menentang produk halal. Muslim radikal Uighur  sendiri dalam beberapa tahun terakhir dianggap sebagai ancaman bagi perdamaian di kawasan dengan  mayoritas Han Cina.

Sejarah Bangsa Uighur

Aktivitas warga Kazakh.

UIGHUR  adalah bangsa yang tinggal di daerah Asia Tengah yang berbahasa Turki. Mayoritas Penduduknya beragama Islam. Mereka tinggal di wilayah Xinjiang, yang dulunya bernama Turkistan Timur sebelum dicaplok oleh China.

“Uighur” secara harfiah berarti “bersatu” atau “sekutu”. Asal-usul etnis Uighur dapat ditelusuri kembali ke abad ke-3 SM, nenek moyang mereka percaya pada Shamanisme, Manicheism, Nestorianisme, Mazdaisme dan Buddhisme. Uighur menyebar di Daerah Otonomi Xinjiang Uighur, sementara sebagian kecil tinggal di Provinsi Hunan dan Henan.

Asal Usul Uighur

Sebelum tinggal di Turkistan Timur, Barat China (teritorial Xinjiang saat ini), Uighur adalah kumpulan dari beberapa kabilah (suku) yang berpindah-pindah di Mongolia. Mereka sampai ke daerah ini setelah menguasai kabilah Mongolia serta perjalanan mereka ke arah Barat Laut China pada abad 8 Hijriah.

Di Xinjiang ada berbagai etnis misalnya; Uighur, Kazak, Khalkha, Uzbek, Tajik, dan Tatar yang   hidup terutama di Daerah Otonom Xinjiang Uighur, ini adalah wilayah dengan area yang luas, banyak kelompok etika dan banyak agama.

Xinjiang adalah daerah yang berhubungan dengan negara-negara Islam tetangga dalam banyak aspek, seperti asal etnis, agama, ekonomi, budaya, dan adat istiadat, tetapi tidak pernah me misahkan diri dari otoritas sentral dalam cara apa pun. Hubungan ini terjalin melalui berbagai cara, seperti dakwah, perang agama terhadap Buddhisme dan dukungan politik, di sinilah Islam menyebar.

Jumlah penduduk Uighur berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2003 mencapa 8,5 juta jiwa.  Populasi Uighur pada 2017 adalah sekitar 7,2 juta, pada tahun 2018 sekitar 12 juta.  Sembilan puluh sembilan di antara mereka tinggal di wilayah Xinjiang. Sedangkan sisanya, terpencar-pencar di Kazakhistan, Mongolia, Turki, Afghanistan, Pakistan, Jerman, indonesia, Australia, Taiwan dan Saudi Arabia.

Bahasa yang digunakan oleh penduduk Uighur adalah bahasa Uighur yang merupakan turunan dari bahasa Turki. Mereka menggunakan huruf Arab dalam penulisan bahasanya.

Uighur memperkaya warisan budaya China dengan berbagai karangan, buku, musik dan seni yang paling menonjol di antaranya adalah akrobat yang mana orang-orang China sangat piawai dalam memainkannya.

Kaum muslim Uighur adalah kaum yang ramah dan mahir menyanyi serta menari. Mereka memiliki karya rakyat yang indah, termasuk puisi epik “Fu Le Zhi Hui” (kebijaksanaan dan kebahagiaan) dan musik serta tarian divertimento “Er Shi Mu Ka Mu” (dua belas Mukam) masih populer sampai saat ini.

Uighur bergerak di bidang pertanian, sangat berpengalaman dalam berkebun dan menanam kapas. Mereka juga mahir menenun karpet, topi Uighur dan membuat pisau. (Mi Shoujiang, 2014: 35-36)

Agama

Salah satu kelas pendidikan ulang di Cina.

Pada awalnya, penduduk Uighur memeluk beberapa agama seperti, Budha, Kristen (Nestorian) dan Zoroaster hingga  pada batas pertengahan abad kesepuluh Masehi, kemudian mereka masuk Islam. Sekarang mayoritas mereka adalah berideologi Sunni bermadhzab Hanafi, sebagian kecil  Syi’ah Isma’iliyah.

Pada pertengahan abad ke-lO, Islam diperkenalkan ke Xinjiang oleh Satuk Boghra (9 10-956 M), seorang khan dan Dinasti Karakitai yang memeluk Islam. Kashgar, Yirqiang dan Kuche masing-masing menjadi salah satu wilayah Islam secara berurutan.

Setelah abad ke-14 Islam menyebar ke utara Xinjiang, dan pada abad ke-16, seluruh daerah tersebut menjadi Islam. Masjid Eidkah di Kashgar, Tempat Ziarah dariAfaq Khwadja, makam Raja Uighur di Hami dan Menara Emin di Turufan semuanya merupakan konstruksi Islam yang berasal dan periode awal.

Sebenarnya, dakwah Islam sudah sampai di China sejak zaman sahabat Nabi. Khalifah Utsman bin Affan pernah mengirim utusan Sa’ad bin Abi Waqash ke negeri Tirai Bambu itu. Waktu itu, yang menerima rombongan tersebut adalah Yung Wei, Maharaja Tang (M. Iksan, 2010:89). Islam begitu gencar dan massif ketika dipeluk oleh penduduk Uighur.

Hubungan dengan China

Hubungan antara Uighur dan China adalah talik-ulur. Pada saat wilayah ini dikuasai Dinasti Ming, kaum muslimin mendapatkan tempat terhormat bahkan mereka mampu memberikan kontribusi besar bagi negeri China (A. Ibrahim, 2014: 741).

Dulu Uighur juga sempat mendirikan Negara Turkistan Timur yang eksis hingga 10 abad sebelum akhirnya jatuh setelah digempur China pada tahun 1759 kemudian 1876 sebelum akhirnya pada tahun 1950 digabungkan dengan China yang berideologi komunis.

Selama periode ini, Uighur melancarkan beberapa  pemberontakan yang pada beberapa kesempatan sukses mendirikan negara independen setelah pemberontakan tahun 1933 dan 1944. Akan tetapi, tak lama setelah itu negara itu takluk pada orang-orang China yang biasa menguasai wilayah ini secara mutlak.

Setelah peristiwa 11 September 2001, rezim Tiongkok mengintensifkan pengejaran terhadap orang Uighur dan berhasil membawa beberapa orang Uighur, terutama dari Pakistan, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan, di bawah apa yang disebut “Kampanye Internasional Melawan Terorisme.

Meski pengejaran China begitu gencar, beberapa organisasi bawah tanah tetap aktif melakukan gerakan  di negara itu, khususnya Gerakan Islam Turkestan Timur, yang dituduh Beijing melakukan serangkaian ledakan di provinsi Sengiang dan pemuda Turkistan Timur.

Sejak Ketua Partai Komunis Xinjiang Chen Quanguo ditunjuk bulan Agustus 2017, serangkaian kebijakan keras dimulai dengan menargetkan Muslim Uighur di Turkestan Timur (disebut wilayah otonomi Xinjiang -, China

Pada tanggal 19 September 2004, orang-orang Uighur mendirikan sebuah pemerintahan di pengasingan untuk Turkestan timur yang dipimpin oleh Anwar Yusuf dan sebuah konstitusi telah dirancang.

Tindakan diskriminatif China –seperti yang santer di media— pada penduduk Uighur rupanya tak kunjung berhenti malah bertambah parah. Berbagai ekspresi keislaman di Xinjiang dilarang. Mereka bukan hanya menutup masjid, bahkan semua tulisan-tulisan yang bernafaskan Islam dan Al-Quran. Sampai nama yang berbau Islam juga dilarang, demikian juga syariat-syariat Islam lain seperti jenggot dan hijab.

Lebih memilukan dari itu, menuruat rilis PBB, China bahkan telah memenjarakan tak kurang dari satu juta penduduk Uighur di penjara rahasia. Melihat kondisi Uighur yang sedemikian memprihatinkan di bahwah represi China, maka sudah sepantasnya sebagai muslim atas nama agama, bahkan seluruh manusia atas kemanusiaan untuk turut menyuarakan kebebasan mereka.( https://www.hidayatullah.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *