Sampah Masalan Atau Berkah?

Berbicara sampah, bukan suatu hal yang tabu bagi masyarakat Kabupaten Aceh Besar saat ini, bahkan sampah kerap menjadi masalah bagi sebahagian warga yang mendiami daerah daerah tertentu. Dimana dari sumber tumpukan sampah menimbulkan bau yang tidak sedap dan pemandangan yang tidak indah bagi pandangan mata.

Lalu, apakah benar sampah selamanya menimbulkan masalah ? ya jawaban kebanyakan masyarakat yang belum mengetahui dan belum mendapatakn edukasi terkait tehnik pengelolaan sampah yang benar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Besar, Drs. Syukri, mengatakan penanganan sampah merupakan prioritas Pemerintah Kabupaten Aceh Besar setiap tahunnya. Sejumlah langkah terus dicetuskan untuk terwujudnya penanganan sampah kearah yang lebih efektif dan tuntas.

Namun, Syukri, berpendapat, penanganan sampah tersebut butuh kesadaran dari semua pihak, guna proses penanganan dan menciptakan lingkungan bersih dan sehat dapat terwujud.  Salah satu pihak yang telah terjun untuk membantu penanganan sampah secara baik adalah pihak aktivis lingkungan melalui pendirian Bank Sampah di Gampong Blang Krueng, Kecamatan Baitussalam,  Aceh Besar.

“Kita menyambut baik kehadiran Bank Sampah di Aceh Besar, kita berharap inisiatif ini dapat diadopsi oleh gampong gampong lain di Aceh Besar, supaya setiap pihak terlibat dalam penanganan sampah,” kata Syukri.

Sebenarnya sampah tidak akan menimbulkan masalah bagi masyarakat, bilamana dikelola dengan benar sejak dari sumber awal lahirnya sampah. Bahkan sampah dapat bernilai ekonomis bagi penyampah  bahkan bisa jadi sumber pendapatan masyarakat.

Bank sampah yang didirikan oleh pemerhati lingkungan hidup sekaligus warga Gampong Blang Krueng, diharapkan mampu menjawab persoalan sampah selama ini. Kecuali Gampong Blang  Krueng, pengelolaan sampah serupa juga dilakukan di Gampong Puni, Cot Gue dan beberapa Gampong berdekatan dengan perkotaan dengan intensitas sampah lebih banyak dan beragam. (***)

Keprihatinan Lahirkan Bank Sampah

Direktur Bank Sampah Ir. Rama Herawati, MP dan tim melakukan pengawasan operasi sampah di Gampong Blang Krueng, Kecamatan Baitussalam Aceh Besar.

Ir. Rama Herawati , MP adalah Dirketur Bank Sampah di Gampong Blang Krueng Kecamatan baitussalam,  Aceh Besar. Setiap hari asyik berhadapan dengan berbagai jenis sampah yang ditampungnya.  Selanjutnya diolah dan dijual dengan harga yang cukup pantastis.

Diperkirakan mencapai 2 ton sampah perhari yang diangkaut  ke Bank  Sampah yang terletak di Gampong Blang Krueng Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar itu.

Bank  sampah yang dikelola Rama dan sejumlah ibu rumah tanngga lainnya di Gampong Blang Krueng itu, saat ini bukan saja sekedar tempat pengelola sampah melainkan juga sudah menjadi titik edukasi bagi warga gampong yang ada di Kabupaten Aceh Besar maupun luar Aceh yang berkunjung  langsung  ke lokasi rumah pengelolaan sampah tersebut dan melakukan studi banding tentang penanganan sampah.

Rama yang ditemui awak media di salah satu titik edukasi dan pengelolaan sampahnya di sekitar Aceh Besar, mengungkapkan akan latar belakang berdirinya Bank  Sampah yang juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi Gampong Blang  Kreung bisa keluar sebagai juara lomba desa tingkat Provinsi Aceh beberapa waktu lalu.

Lahirnya Bank Sampah yang saat ini menampung sejumlah kalangan masyarakat yang terjun sebagai aktivis sampah itu, kata Rama disebabkan oleh sikap keprihatinannya terhadap kondisi sampah di lingkungan tempat tinggalnya yang tidak tertangani  dengan  baik dan benar.

“Saya prihatin dengan lingkungan dan khawatir dengan kondisi sampah yang bergentanyangan disetiap sudut lingkungan tempat tinggal,”  kata Rama Herawati.

Beranjak dari itulah Rama dibantu oleh beberapa ibu rumah tangga yang selingkungan  dengannya, mencoba melakukan aksi awal dengan menerapkan sistem pengelolaan sampah secara benar  dan baik, sejak dari rumah tangganya sendiri, Dan memanfaatkan sampah atau limbah rumah tangga itu menjadi barang bermanfaat dan bernilai ekonomis.

Misalnya, bekas sayur mayur yang digunakan dikelola mejadi kompos dan dapat diberikan vitamin bagi tumbuhan, sayur mayur atau tanaman hias di sekitar rumah.  Selanjutnya sejumlah sampah berupa botol plastik dikumpulkan dalam satu wadah khusus untuk  dijual kepada penggiat barang bekas, atau dimanfaatkan untuk pot bunga atau tanaman.

Ternyata, memberikan keuntungan yang luar biasa baik bagi lingkungan  maupun kos biaya rumah tanggal, mengapa tidak, untuk pemupukan bunga tetap subur sudah ada kompos yang dihasilkan dari sisa makan hari hari, dan sejumlah bunga yang dibutuhkan tempat berupa pot dapat di gunakan botol bekas  yang di desain secara menarik.

Praktek pengelolaan sampah secara benar itu terus dikembangkan kepada masyarakat sekitar, sehingga budaya hidup sehat dan bersih itu pun dapat berjalan di lingkungan Gampong setempat.

“Lingkungan kita saat ini malah sudah kita kasih pamplet sebagai daerah tertib sampah,” ujar Rama.

Disinggung, kendala dalam melakukan mengembangkan tehnik pengelolaan sampah itu sendiri,  Rama menyebutkan, minimnya pendidikan tentang penanganan sampah bagi masyarakat sangat minim. Selanjutnya budaya membuang beban juga masih sangat kental di masyarakat, misalnya pengutipan sampah dan pembersihan lingkungan seakan hanya kewajiban pemerintah melalui dinas bersangkutan.

“Sebenarnya itu adalah prinsip yang sangat salah, pemerintah hanya mendukung dari setiap kegiatan masyarakat,” timpalnya.

Pada kesempatan tersebut Rama juga mengaku beragam tantangan harus dihadapi dilapangan turut mengiringi  perjuanganya dan kawan kawan dalam perjuangan menciptakan lingkungan hidup yang bersih dan sehat itu.

Namun, sejak beberapa waktu terakhir Gampong Blang Krueng  mulai menerapkan berbagai ilmu tehnik pengelolaan sampah itu di lingkungan, rumah tangga dan tempat publik. Sehingga berbagai manfaat mulai dinikmati oleh masyarakat.

Kecuali itu, untuk terus melebarkan kampanye cinta lingkungan itu, Rama dan segenap aktivis lingkungan juga sedang dan terus melakukan edukasi tentang tehnik penanganan sampah secara baik dan benar ke berbagai kalangan, mulai dari lingkungan masyarakat hingga ke lingkungan publik dan pendidikan.

Dengan harapan, agar kedepan mampu terealisasi penanganan sampah dengan baik di seluruh rumah tangga masyarakat yang ada di Aceh Besar , Aceh bahkan Nasional. Untuk lancarnya kampanye cinta lingkungan itu, Rama berharap dukungan dari semua pihak.

“Dukungan Pemerintah  dan seluruh elemen masyarakat sangat menentukan jalan tidaknya aksi pengelolaan sampah secara baik dan benar secara menyeluruh, sebab regulasi  merupakan pedoman  dari segala kegiatan yang harus dilaksanakan masyarakat dalam sebuah daerah,” demikian ujar Rama Herawati. (***)

Pembakar Sampah  adalah Perusak Lingkungan

Pembakaran sampah, budaya tersebut dinilai bukanlah solusi yang baik dalam penanganan sampah, karena akan menimbulkan bahaya bagi makhluk hidup dan lingkungan.

Penanganan sampah yang dilakukan masyarakat selama ini dinilai masih dengan cara yang salah, dimana berbagai jenis sampah dilenyapkan dengan cara membakar. Aksi membakar sampah itu diyakini bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan sampah, justeru  sebaliknya, malah akan menciptakan sejata baru untuk menyerang kesehatan manusia maupun alam.

Ir. Rama Herawati, MP, Direktur Bank Sampah Aceh Besar,  mentakan tidak setuju pemusnahan sampah dengan cara itu, meski hal tersebut sangat kerab dilakukan masyarakat  secara bebas.

“Pemusnahan sampah dengan cara membakar masih menjadi budaya banyak masyarakat, seharusnya hal itu tidak perlu terjadi,” kata Rama Herawati.

Menurut Rama, membakar sampah bukan cuma memberikan efek buruk bagi diri pelaku saja,tapi  masyarakat sekitar juga menanggung efek. Bahkan lebih buruknya lagi  ozon sebagai pelindung bumi dari sinar ultraviolet atau pengarus alam bebas juga ikut dikorbankan. Sebab dalam tumpukan sampah yang dibakar terdapat  berbagai benda yang seharusnya tidak dibakar, seperti , plastik. Selain itu asap yang ditimbulkan dari pembakaran sampah tersebut, sudah pasti akan dihidurup manusia  dan binatang, sehingga sangat mnegancam  kesehatan makhluk hidup.

Seyogianya, munculnya niat untuk memusnahkan  sampah dengan cara membakar, menurut Rama, akibatkan upaya menghemat waktu dan jumlah sampah yang sudah tidak wajar lagi, sehingga diambil keputusan untuk membakarnya. Semua itu dikarenakan oleh tidak adanya sistem pengelolaan yang benar dan terorganisi sejak dari awal.

“Kebiasaan pembakar sampah akibat menghindari capek untuk pemindahan karena jumlah yang banyak dan beragam alasan lain,” tambahnya.

Secara rinci,  Rama menjelaskan bahwa pada tumpukan sampah yang mudah dijumpai saat ini di lingkungan masyarakat, tidak seluruhnya terdapat sampah yang perlu dimusnahkan, malah sejumlah bagian sampah yang merupakan Vitamin yang dibutuhkan oleh tanaman, seperti sisa makanan (sampah Organik), sedangkan plastik atau botol air mineral juga masih dapat didaur ulang.

Maka, Rama menganjurkan agar rumahtanggal mampu mengelola sampah dengan baik dan benar dengan cara melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber awalnya, guna  memberikan kemudahan dalampenanganan sampah dilingkungan dan sampah yang bernila ekonomi tidak terbuang begitu saja.

Ditambahkan  Rama, untuk setiap rumahtangga hendaknya dapat memilahkan sampahnya ke dalam beberapabagian  yaitu sampah Organik, Unorganik dan sampah botol dan palstik. Ia optimis jika tehnik penanganan sampah sejak dari rumahtangga  dapat terwujud, persoalan penanganan sampah bukan suatu hal yang rumit lagi bagi pemerintah dan tingkat kesehatan masyarakat dipastikan akan lebih terjamin serta meminimalisir potensi kerusakan lingkungan udara dan sebaginya.

“Mengelola sampah dengan baik dan benar sama dengan halnya menyelamatkan keluarga, Lingkungan, bahkan dunia,” (***)

HPSN Diharapkan Jadi Refleksi Ciptakan Masyarakat Peduli Sampah

Tampak sebuah pamplet bertulisan “Kawasan Tertib Sampah”, yang terdapat di salah satu lingkungan masyarakat di Gampong Blang Krueng Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, paska tertibnya pengelolaan sampah di gampong tersebut.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) untuk Kabupaten Aceh Besar, dilaksanakan Sabtu,02 Maret 2019 di Lapangan Bola kaki Siron Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar,turut hadir sejumlah pejabat teras Pemprov Aceh dan pejabat teras Pemkab Aceh Besar.  Selain dekarasi peduli sampah juga dilakukan penandatangan kesepahaman bersama peduli sampah pada sebuah spanduk besar berukuran 2x 3 meter.

Direktur Bank Sampah Aceh Besar,Ir. Rama Herawati, MP ikut serta dalam acara tersebut dan sempat memberikan edukasi kepada publik tentang proses penanganan sampah yang baik dan benar.

Secara khusus, Rama mengharapkan kegiatan HPSN yang dilaksanakan itu tidak hanya menjadi kegiatan seremonial semata yang dilaksanakan setiap tahunnya, tapi harus membekas dan terimplementasi dalam kehidupan di lingkungan masyarakat. Mengingat persoalan sampah saat ini bukan lagi hal biasa, tapi harus mendapat perhatian serius dari berbagai elemen, terutama dari pemerintah. Sebab persoalan sampah sudah menjadi hal luar biasa yang terus menimbulkan keresahan bagi masyarakat.

Menurut Rama, penanganan sampah yang dilakukan selama ini hanya sekedar pemindahan dari satu titik ke titik lainnya, sedangan upaya pengelolaan secara baik dan benar belum tersetuh.

Ia menambahkan, edukasi menjadi tehnik pengelolaan sampah merupakan hal yang cukup mendasar bagi masyarakat, selanjutnya aturan baku pemerintah akan tatacara membuang sampah dimuka publik juga tidaklah pentingnya.

Diharapkan pemerintah mampu melahirkan sebuah regulasi yang mengatur tatacara penanganan sampah tersebut kepada masyarakat, sebelum persoalan sampah ini akan terus menjadi persoalan yang makin besar bari masyarakat, sebab intensitas sampah setiap saat bukan berkurang, tapi cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk .

“Saya berharap HPSN ini menjadi titik awal kita bergerak membenah dan mengelola sampah,  bukan sekedar seremonea  tahunan semata,” demikian harap Rama Herawati. (***)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *