Aceh Bebas Dari Sampah: Bukti Pemerintah Aceh Rawat Lingkungan

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah

Pemerintah Aceh berkomitmen mengurusi sampah hingga menjadi kota yang sejuk dan nyaman. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai cara telah dilakukan untuk membebaskan sampah di ibu kota provinsi Aceh. Salah satu dilakukannya deklarasi aksi Aceh bebas dari sampah. 

Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah,MT, tidak bosan-bosannya mengajak masyarakat Aceh untuk selalu mencintai kebersihan dengan menjaga lingkungan bebas dari sampah. Apalagi Aceh merupakan daerah satu-satunya yang diberkalukan Syariat Islam dimana kebersihan itu wajib dijaga.

“Aceh adalah provinsi yang dijuluki Serambi Mekkah, sesuai Syariat Islam orang Aceh harus selalu menjaga kebersihan karena, kebersihan itu setengah dari iman. Maka, Aceh harus bebas dari sampah dan menjadikan contoh bagi daerah lain dalam hal kebersihan lingkungan,” kata Plt Gubernur belum lama ini. 

Sebelumnya, Pemerintah Aceh telah melakukan deklarasi aksi Aceh bebas sampah, yang dilaksanakan di lapangan sepak bola Gampong Siron Ingin Jaya, Kabupaten  Aceh Besar. Deklarasi tersebut dilakukan pada peringatan  Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019.  Kegiatan itu dilakukan Pemerintah Aceh bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, Pemerintah Kabupaten  Aceh Besar.

Untuk mencintai kebersihan tidak hanya dilakukan oleh pegawai negeri dan masyarakat tetapi juga melibatkan para pelajar seperti yang telah dilaksanakan pada deklarasi di pasar Lambaro Ingin Jaya,  serta di Tempat PembuanganAkhir (TPA)  Blang Bintang.

Pada deklarasi aksi Aceh bebas sampah Staf Ahli Gubernur Aceh  Iskandar Syukri, yang terjun langsung ke lokasi mengatakan, pelaksanaan  aksi Aceh bebas sampah menjadi kegiatan rutin bagi masyarakat Aceh, sehingga aksi Aceh bebas sampah bukan sekedar  seremonial semata, tetapi akan menjadi sebuah kesadaran untuk selalu menjaga kebersihan.

Dengan harapan, setelah dilakukan deklarasi aksi Aceh bebas sampah, masyarakat Aceh dapat menjadikan kebersihan lingkungannya masing-masing sebagai budaya hidup. Sehingga akan merasakan kenikmatan, kesejukan dan ketentraman dalam lingkungan keluarga.

“Harapan kita dengan telah dilaksanakan deklarasi aksi Aceh bebas sampah maka, masyarakat dapat menjadikan kebersihan sebagai budaya hidup bersih. Sehingga, akan dirasakan kenikmatan, kesejukan dan ketentraman dalm lingkungan keluarga,” sebut Iskandar.

Dijelaskan,  persoalan sampah merupakan persoalan yang rumit dimana volume sampah pada tahun 2016 di kotaBanda Aceh saja, mencapai 200 ton per hari. Jumlah volume tersebut bahkan terus meningkat hingga tahun pada tahun 2018 mencapai  300 ton per hari. Hal itu dikarenakan penambahan penduduk di ibu kota provinsi Aceh juga, terus meningkat setiap tahunnya. (*)

Aceh Harus Bebas Dari Sampah 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh Ir Syahrial

Dalam rangka menuju daerah kota yang madani Aceh harus bebas dari apapun bentuknya sampah, maka guna menggapai apa yang diharapkan Pemerintah Aceh khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh, akan mengoperasikan  Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Karena tempat pengelola sampah yang sudah ada di Gampong Jawa, sudah tidak dapat menampung keberadaan sampah yang kian hari kian banyak.

Lagi pula masyarakat baik yang berdomisili dekat TPA Gampong Jawa maupun sekitar jalan lintas menuju lokasi pengelola sampah, menilai bahwa keberadaan pengelola sampah di TPA Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Radja Bada Aceh itu sudah melebihi batas, maka sebaiknya pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh, tidak menoperasikan lagi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh Ir Syahrial, selaku lokomotif dalam menarik sampah-sampah yang kian bertambah pada setiap harinya, terus berupaya sekuat tenaga menarik gerbong sampah guna menuju Aceh yang bersih tanpa sampah. Bahkan, dalam waktu dekat TPA Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, segara dioperasikan.

Menurut Ir Syahrial, antara sampah dengan manusia sebenarnya tidak dapat dipisahkan, karena setiap manusia dalam kesehariannya membutuhkan yang namanya berujung pada sampah, seperti kantongan plastik, koran bekas pembungkus dan hasil dari ketidakterpakaian rumah tangga. Contohnya, dari sayur yang tidak terpakai serta benda lainnya.

Namun, semua itu jika semua pihak memiliki kesadaran yang sama maka, sampah – sampah tersebut dapat teratasi meskipun secara sedikit-sedikit. Untuk itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh, dengan segala upaya terus berusaha untuk menyingkirkan sampah yang ada, dengan membangun sarana penampungan dan penglola sampah. 

“Kita sudah ada lokasi baru tempat pengelola sampah yang di bangun Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR), yang terletak di Blang Bintang, untuk pengelolaan itu sendiri memerlukan anggaran belasan miliyar, tetapi Pemerintah Aceh akan mengoperasikannya,” kata Ir Syahrial.

Diharpkan kepada seluruh elemen masyarakat agar ikut perduli terhadap keberadaan sampah, dengan tidak membuang sampah di sembarangan tempat yang akan membuat sampat itu berserakan dan menimbulkan bau busuk. Pemerintah telah menyiapkan tong tempat penampungan sampah sebelum diambil dan diangkut oleh petugas kebersihan.

“Cuma satu permintaan kita dimana masyarakat mau menyadari terhadap keberadaaan sampah, dengan tidak membuang sembarangan tempat. Tetapi buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan pemerintah sebelum petugas mengangkat untuk diangkut ke lokasi pengelahan,” pintanya.

Isi Bumi Yang Tak Pernah Habis

Gundukan sampah di TPA Gampong Jawa

Berbicara masalah sampah di dunia ini seolah tidak ada habisnya, karena setiap manusia dunia ini setiap harinya memroduksi sampah, bahkan di kota –kota besar dalam setiap menit sampah terus muncul. Pun begitu sebenarnya ada solusi yang dapat memecahkan persoalan sampah.

Meskipun sampah menjadi hal yang tidak bisa lepas dari kehiodupan manusia namun,  Pemerintah Aceh telah melakukan hal –hal yang menjadii solusi dalam mengelohan dan pemecahan terhadap sampah. Seperti yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh. Demikian dikatakan Kadis Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh Ir Syahrial.

Sampah memang menjadi hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Misalnya saja, ketika kita selesai makan, pasti akan menghasilkan sampah. Baik itu sisa bungkus makanan dan juga minuman. Lalu siapa yang tidak pernah menghasilkan sampah? Tentu jawabannya tidak ada.

Memang bagi orang awam mereka belum terlalu paham mengenai ancaman yang disebabkan sampah, sehingga tidak mengetahui mana  jenis sampah yang berbahya. Padahal ada cara mengolah sampah supaya tidak menjadi masalah dalam kehidupan manusia.

Pemerintah telah menyedikan tempat dan tong sampah di lingkungan masyarakat pusat pasar dan tempat – tempat lainnya, tinggal saja masyarakat belajar pada dinas terkait tentang tata cara mengolah sampah, untuk dijadikan sebuah  nilai ekonomis yang bisa menjadi pendapatan keluarga.

Misalnya, bagi masyarakat petani cukup belajar bagaimana cara mengolah sampah untuk dijadikan pupuk, kemudian bagi masyarakat kreatif dapat belajar bagaimana mengdaur ulang sampah untuk dijadikan nilai ekonomi keluarga. Karena, pemerintah siap memberikan ilmu kepada masyarakat yang mau belajar.

Tinggal saja masyarakat yang harus belajar tata cara mengolah sampah, dengan cara mudah tanpa perlu mengeluarkan modal dan dapat menghasilkan rupiah, di setiap Kecamatan ada petugas apoaratur negara yang mempu membagikan ilmu tentang mengolah sampah.

“Masyarakat tinggal datang dan belajar sama petugas di lapangan,” kata Syahrial. (*)

Beragam Cara Atasi Sampah 

Plt Kepala DLHK3 Banda Aceh, Jalaluddin meninjau TPA Regional Blang Bintang, Aceh Besar

Sesungguhnya banyak cara yang dapat dilakukan terhadap persoalan sampah, dengan melakukan aksi yang sederhana saja Aceh bisa bebas dari sampah. Sehingga, kota akan bersih dan nyaman tentunya sedap dipandang mata dan menjadi impian semua orang.

Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi dengan aktifitas penduduk ibu kota dan pedagang, setiap harinya jumlah sampah yang diproduksi mencapai 300 ton perhari, dengan kondisi volume sampah yang begitu tinggi, butuh keadaran masyarakat dalam pengelola sampah

Agar impian impian kita semua bisa segera terwujud, hal-hal kecil seperti membiasakan buang sampah pada tempatnya juga sangat membantu mengurangi sampah di Kota Banda Aceh. Pemerintah, melalui dinas terkait bersama pasukannya sudah bekerja keras setiap hari mengurusi sampah.

Pemeriuntah sudah melakukan berbagai cara untuk menyadarkan masyarakat terhadap keberadaan sampah di ibu kota seperti peringatan berupa stiker di mana-mana untuk tidak lupa melakukan aksi-aksi sederhana. Seperti stiker yang mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Kemudian, mengajak masyarakat untuk belajar melakukan daur ulang sampah yang ada di lingkungannya masing – masing, dengan cara dini adalah membiasakan untuk memisahkan sampah berdasar jenisnya dan mendaur ulangnya agar bisa digunakan kembali.

Selanjutnya, benda-benda usai dipakai yang kiranya bisa dibawa pulang seperti botol miniral, kaleng minuman ringan, dan bungkusan makanan yang dapat digunakan di rumah agar, tidak membuang apalagi menaruh bukan pada tempatnya.

Cara – cara tersebut juga telah membuat kita atas kesadaran dalam menjaga sampah, paling tidak dilingkungan atau jiwa kita pribadi, sehingga akan diikuti yang pertama keluarga, lingkungan dan selanjutnya masyarakat luas untuk menuju masyarakat yang bersih dan beriman. (*)

 

.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *