Letjend (Purn) Syarwan Hamid: Komunis dan Cina Mengancam Negara Kita

Bogor (MA)-Dalam acara relawan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang berlangsung di Lapangan Indor Basket GOR Pajajaran Kota Bogor,  Jalan Pemuda Nomor 5 Kota Bogor,  Kamis, 21 Maret 2019 sekitar Pukul 09.00 WIB, sejumlah tokoh nasional turut hadir, termasuk Letjend TNI (Purn) Sarwan Hamid.

Tokoh militer kelahiran Siak, Riau, 10 November 1943 itu turut membahas tentang bahaya laten komunis dan Republik Rakyat Cina.

“Bahaya laten komunis bersama dengan Cina mengancam negara kita, kalau hanya berbicara politik belum tentu bisa menghancurkan negara kita, tetapi kalau tentang masuknya komunis dan China itulah yang sangat berbahaya dan dapat menghancurkan negara kita,” ujar Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Reformasi Pembangunan.

Tokoh gerakan Pelajar Islam Indonesia (PII) semasa mudanya dulu itu mengakui, dia telah melihat langsung bagaimana kejamnya PKI di Indonesia.

“Saya termasuk yang mengalami betapa kejamnya komunis yaitu PKI di masa silam, dimana ditumpas oleh TNI dan hidup lagi kemudian ditumpas lagi kemudian melakukan pemberontakan yang dinamakan G 30 S PKI,” kisahnya.

Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1966 ini turut menyesalkan sikap Presiden RI, Joko Widodo yang hendak meminta maaf kepada keturunan PKI.

“Yang paling fatal adalah Jokowi pernah mau minta maaf kepada PKI dan menyebutkan pada saat itu yang salah adalah TNI dan Polri,” kata pria yang pernah menjadi Danrem 011/Lilawangsa Aceh sekitar tahun 1990 itu.

Lanjut mantan  Kassospol ABRI  ini, terakhir ini, penganut paham komunis sangat berani muncul kepermukaan. Sebutnya, mereka tak pernah malu mengaku bangga jadi anak PKI. Dan anehnya mereka seperti dibiarkan tanpa ada tindakan apapun dari aparat penegak hukum.

“Sekarang komunis sudah mulai muncul ke permukaan. Ditandai munculnya statment seperti “aku cinta PKI”. Anehnya, meskipun bertentangan dengan TAP MPR  tapi tidak ada tindak lanjut dari pemerintah sekarang ini,” pungkas pensiunan jenderal yang lama bertugas di Aceh semasa berstatus Daerah Operasi Militer (DOM).

Ungkapan senada juga disampaikan aktivis Egi Sudjana. Menurut dia, sejarah telah membuktikan bahwa banyak keturunan tokoh PKI berada di partai tertentu (maaf, sambil menyebut nama partai besar-red).

“Oleh karena itu jika kita membela Prabowo sandi kita mengikuti sejarah yang diridhoi oleh Allah SWT pada saat dulu ulama NU dan ormas Islam memberantas PKI,” sebutnya.

Menurutnya, pilihan rakyat kepada Prabowo Sandi adalah keharusan sejarah agar Indonesia tidak dikuasai oleh asing kekuasaan sekuler yang bisa menghancurkan NKRI.

“Jika Prabowo Sandi nanti menang pasti tidak akan melanggar ijtima ulama karena Prabowo Sandi didukung oleh Habib Rizieq Shihab dan yang pasti akan mensejahterakan bangsa ini,” yakin pria yang akrab dipanggil Bang Eggi sambil mengajak, “dengan demikian tenggelamkan partai yang tidak berkoalisi dengan kita” (Rudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *