Diduga Gelapkan Tanah Wakaf, Mantan Kades Dipolisikan

Bireuej (MAC)- Mantan Kades Geudong-Geudong, Kecamatan Kota Juang, Bireuen, Zainuddin Daud dilaporkan ke Polres Bireuen, Rabu (12/12) menyusul dugaan penggelapan tanah wakaf untuk perluasan komplek mesjid Geudong-Geudonjg yang ternyata dialihkan untuk Yayasan Pendiidikan Islam yang diketuainya.

Sebaliknya, Zainuddin Daud menyangkal tudingan itu, dan disebutnya semua bohong. Ia sendiri tidak berniat sedikitpun dalam upaya melakukan penggelapan tanah milik umum. Ada yang mengacaukan, dan itu hanya beberapa okb=num saja,” sebut Zainuddin,

Sedangkan Sulaiman Ismail dalam laporannya, No. STTLP: 215/XII/Res.1.11/2018/SPKT tertnggal  12 Desember 2018, menyebutkan jika, Zainuddin Daud selaku terlapor, patut  diduga kuat telah melakukan tindak pidana penggelapan sebgaimana dalam laporannya itu. Ketika mendatangi SPKT Polres Bireuen, Ia ditemani beberapa perwakilan masyarakat Desa Geudong-Geudong yang merupakan Pengurus Badan Kenaziran Mesjid (BKM), Al Muhahidin Desa Geudong-Geudong, yang turut pula didampingi, penasehat hukum,  Muhammad Ari Syahputra, SH

Kedatangannya itu, khusus melaporkan Zainuddin Daud ke polisi  atas dugaan kasus Pengelapan tanah wakaf yang juga kepala mukim itu, yang  terklibat dalam pengalihan tanah tersebut, yang saat kebetulan saat itu, sebagai Kades Desa Geudong-geudong pada tahun 1994

Menurut Tgk. Erwin selaku sekretaris BKM Al Mujahidin laporan Polisi ini dibuat berdasarkan keluhan dari masyarakat desa geudong-goudong yang pernah membeli tanah dengan iklas dan mewaqakafkan untuk perluasan halaman mesjid Al Mujahidin yang dulunya bernama Mesjid Geudong pada tahun 1994 melalui mantan keuchik yang bernama Zainuddin Daud. Akan tetapi masyarakat yang menyumbang atau ikut membeli tanah untuk tanah wakaf yang peruntukannya akan digunakan bagi peluasan mesjid AL Mujahidin tersebut. Namun, warga  tidak pernah mengetahui dimana lokasi tanah itu  sampai saat ini.

Bahkan menurut Erwin didalam arsip BKM Al Mujahidin tidak pernah di jumpai Akta tanah atau Akta Jual Beli (AJB) tanah terhadap perluasan halaman Mesjid tersebut dan yang ada dalam arsip BKM hanya sumbangan masyarakat desa geudong-geudong dalam bentuk list dan juga kwitansi bukti pembayaran yang di terima dan ditanda tangani dalam kwitansi dimaksud oleh terlapor (ZD). Berdasarkan keluhan masyarakat tersebut baik yang menyerahkan uang di catat dalam pembukuan (list) dan juga bukti kwitansi pembayaran yang dimiliki masyarakat sehingga mereka melaporkan Zainuddin Daud ke Polres Bireuen atas dugaan tindakZ pidana Penggelapan dan Perbuatan Curang.

Sementara itu, Muhammad Ari Syahputra, SH selaku kuasa hukum dari Pelapor menjelaskan kepada media media ini, bahwa kasus ini berat dugaannya dengan penipuan

Kasus yang terjadi tahun 1994, berawal saat donatur yang merupakan warga dan tokoh Desa Geudong-Geudong, menyerahkan uang sumbangan kepada Perangkat Desa setempat, Puluhan orang, ada yang membeli satu meter dan bahkan ada yang menyumbang dua meter tanah yang peruntukannya disepakati untuk perluasan mesjid.

Sedangkan pemilik tanah untuk areal perluasan mesjid itu, adalah milik Abdullah Umar, yang sebelumnya telah mewakafkan sebagian tanah miliknya untuk Mesjid Geudong-Geudong. Sedangkan sebagian lainnya dibeli oleh sendiri oleh warga dan  setempat yang tujuannya diwakafkan untuk digunakan perluasan mesjid, dengan harga Rp 33 ribu per/meter (harga saat itu-red).

Sedangkan dalam kwitansi itu, jelas dicantumkan untuk pembayaran “sumbangan harga tabah untuk perluasan Komplek Mesjid Gedung-Geudong yang kwitansi tersebut ditandatangani Zainuddin Daud yang saat itu sebagai Geuciek Gedung-Geduijngzainnuf[din Daud, yang ketika itu menjabat sebagai Geuchik Geudong.

Begitupun, mantan Geuchik Gedong itu, Zainuddin Daud yang dikonfirmasi media ini menyangkal jika dirinya telah menggelapkan tanah tersebut dengan mengalihkan untuk Yayasan Pendidikan Islam Nurul Islam yang diketuai olehnya. Pihaknya mengaku tidak berniat secuilpun untuk menggelapkan tanah milik umum itu,

Ia membeberkan jika masyarakat setempat juga tahu, permasalahan tersebut, jika sumbangan   untuk balai pengajian yang dibangunnya sekitar 20 tahu lalu, sehingga untuk kelanjutan balai pengajian tersebut, diurus akte pendirian yayasan yang namanya Yayasan Pendidikan Islam “Nurul Islam” gunanya yayasan agar memperoleh bantuan-bantuan, yang diantatarnya untuk membayar honor-honor  guru,” sebutnya.

Disinngung akta jual beli, bukannya atas nama mesji, sedangkan sumbangan warga maupun tokoh masyarakat diwakafkan pengadaan tanah yang digunakan untuk perluasan mesjid, yang diakui adanya kekeliruan menyangkut sumbangan dimaksud. Sebenarnya sumbangan tersebut digunakan untuk balai pengajian, meskipun dalam kwitansi itu, jelas-jelas dicantumkan tulisan untuk keperluan perluasan  mesjid

Dikatakan, saat itu yang menjadi Sekdes Geudong, Bachtiar yang ternyata keliru dalam mengisi kwitansi tersebut. Kwitansi yang duluan ditandatanganinya itu, masih berupa kwitansi kosong.

Sementara sumber kain menyebutkan, pada 31 Desember 1994, jika  Sekdes Muchtar dan  Zainuddin Daud selaku Keuchik Desa Geudong-Geudong meminta dirinya   hadir sebagai Saksi dan ikut menandatangani Akta Jual Beli Tanah milik Abdullah Umar yang dibeli oleh Yayasan Pendidikan Islam Nurul Islam.

Sebagai saksi  Mukhtaruddin pada  awalnya tidak bersedia menandatangani Akta Jual Beli dimaksud. Pasalnya tanah yang akan dibeli  yayasan tersebut adalah tanah yang diwakafkan Abdullah Umar untuk Mesjid Geudong dan sumbangan dari beberapa tokoh masyarakat Desa Geudong-Geudong yang akan digunakan untuk perluasan komplek Mesjid Geudong.

Tapi, Mukhtaruddin, diyakinkan Zainuddin Daed, bahwa  Akta Jual Beli tersebut dibuat atas nama yayasan, hanya untuk sementara waktu. Tujuannya agar mudah mendapatkan bantuan dari donatur. Alasan tersebutm akhirnya meluluhkan tekad Muchtar yang awalnya Keukeuh untuk tidak menanda tanganinya. Tak dapat disangkal jika benar kejadisn seperti itu, Muchtarb diisebut-sebut salah satu pihak yang paling bertanggung jawab sehingga terjainya kegaduhan di desa selama 14 tahun.(Maimun Mirdaz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *