Diduga Sarat Masalah, Proyek Ayam KUB Makin Carut Marut

Blangpidie (MA) – Permasalahan penyedian Ayam Kampung Unggul Balitbang (KUB) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang bersumber anggaran dari Dana Desa (DD) tersebut kini telah menjadi buah bibir hampir seluruh masyarakat kabupaten setempat. Pasalnya, hingga habis masa anggaran tahun 2018, penyediaan ayam KUB tersebut belum semua teralisasi.

Program penyediaan ayam KUB yang tadinya diharapkan dapat mendongkrak ekonomi masyarakat miskin dihampir 96 dari 152 Gampong di Kabupaten Breuh Sugupai itu kini semakin carut marut, terlebih setelah pihak pemerintah melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan Pemberdayaan Perempuan (DPMP4) Abdya menghimbau aparatur gampong untuk menarik kembali anggaran tersebut kepada rekanan.

Kepala (DPMP4) Abdya, Yusan Sulaidi, pada Senin (25/2/2019) lalu dengan tegas menginstruksikan seluruh geuchik yang mengembangkan ayam KUB untuk menarik kembali anggaran pembelian yang dianggarkan melalui Dana Desa Tahap II dan III tahun anggaran 2018 yang sudah disetor ke pihak rekanan.

Menurutnya, instruksi tersebut berdasarkan hasil evaluasi penyediaan bibit ayam untuk 96 desa hingga kini belum mencapai 100 persen. “Para camat dan geuchik sudah kita surati agar anggaran tersebut ditarik kembali, lantaran sudah berakhirnya tahun anggaran 2018,” sebut Yusan Sulaidi kala itu.

Yusan menyebutkan, dari 96 gampong yang memesan bibit ayam tersebut, sekitar 40 persen lagi belum menerima bibit ayam tersebut hingga hari ini. Untuk itu, demi kelancarkan administrasi anggaran untuk penarikan anggaran tahun 2019, biaya pembelian bibit ayam KUB tersebut harus ditarik dari penyedia.

Indikasi permasalahan dengan pengadaan ayam KUB itu juga telah disampaikan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Abdur. Bahkan, dirinya berjanji akan mengevaluasi pelaksaan pengadaan budidaya ayam KUB yang diduga bermasalah tersebut.

“Akan kita evaluasi sejauh mana pelaksanaa kegiatan ini dilaksanakan, apakah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) atau tidak,” tegas Abdur Kadir kepada sejumlah awak media.

Kajari mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan turun langsung ke lokasi pengadaan tersebut untuk memeriksa satu per satu mulai dari kandang, ayam, pakan serta masyarakat yang menerima manfaat.

“Kerja sama pengadaan ayam KUB ini harus kita lihat dulu berapa banyak diadakan dan berapa yang sudah dibayar. Kalau sudah dibayar, berapa jumlah ayamnya yang sudah tersedia, kalau belum dibayar, mungkin itu tidak masalah,” tegas Abur Kadir.

Selain Abdur Kadir, desakan untuk dilakukan audit permasalahan penyedian ayam KUB itu juga disampakan oleh ketua YARA Perwakilan Abdya, Miswar. Bahkan, pihaknya menduga ada permainan sistematis dalam pengembangan ayam KUB itu.

“Kami menduga ada indikasi korupsi dan kerugian negara pada pengadaan tersebut. Karena aparatur gampong sudah menyerahkan panjar kepada pihak penyedia. Dan aparatur gampong juga sudah membuat kandang ayam yang menggunakan uang desa, termasuk ada juga yang sudah membeli dan memberikan panjar untuk pembelian pakan ayam,” ungkap Ketua YARA Abdya, Miswar pada Selasa (26/2/2019) lalu.

Miswar mengatakan, sejauh ini YARA juga menemukan banyak gampong yang tidak memiliki kontrak secara hukum antara desa dengan pihak penyedia terkait target waktu pendistribusian bibit ayam KUB ke gampong-gampong.

Ketua KOMPAK, Saharuddin bahkan menilai, instruksi kepala DPMP4 Abdya untuk menarik kembali anggaran pembelian ayam KUB itu merupakan tindakan yang keliru.

“Instruksi kepala DPMP4 Kabupaten Abdya itu keliru, anggaran itu dianggarkan melalui Dana Desa (DD) tahap II dan III tahun anggaran 2018,” sebut Saharuddin.

Menurut Saharuddin, anggaran pembelian bibit yang bersumber dari Dana Desa sudah lama disetor ke pihak penyedia (rekanan). “Karena gagal dalam menyediakan barang (Bibit Ayam KUB), apakah hanya cukup dengan mengintruksikan kepada keuchik untuk meminta uang tersebut dikembalikan,” tanya Saharuddin.

Ditegaskan Saharuddin, masalah tersebut menyangkut dengan uang negara yang dikelola oleh desa. “Saya pikir setiap penggunaan Anggaran Negara itu sudah ada aturan yang mengaturnya. Tidak segampang disaat Karena sudah gagal, ya uang nya diminta kembalikan saja,” tegasnya.

Terakhir, Sekda Abdya, Drs. Thamrin merespon permasalahan tersebut dan meminta Inspektorat melakukan audit anggaran pengadaan bibit ayam KUB yang menggunakan Dana Desa tahun anggaran 2018 itu.

Disebutkannya, dirinya secara lisan sudah menyampaikan kepada pihak inspektorat untuk melakukan audit terhadap gampong-gampong yang belum menerima penyaluran ayam KUB tersebut. Kemudian hasil audit itu baru ditindaklanjuti bagaimana mekanisme selanjutnya.

Thamrin menjelaskan, kalau mekanismenya pengadaan, tentu ada aturan-aturannya, misalnya pengadaan tersebut mengalami putus kontrak, maka pihak rekanan harus mengambalikan uang tersebut. Sementara untuk desa sendiri apakah ada aturan yang jelas atau tidak, maka biar nanti pihak inspoktorat yang menilai.

“Kita berharap sesuai mekanisme kita jalankan, apalagi Dana Desa itu dalam pembinaan, ya kita selesaikan dulu secara administrasi, nanti kita minta bantu juga kepada TP4D, sebab kita juga tidak bisa melangkahi mereka, karena kita sudah gunakan TP4D sebagai pendamping,” jelas Thamrin.

Terkait masalah kandang ayam yang sudah siap dikerjakan oleh gampong-gampong yang belum terealisasinya bibit ayam KUB, Sekda mengatakan pengadaan bibit ayam tersebut juga bisa dilakukan kembali pada anggaran desa selanjutnya. “Program ini sudah dilaksanakan, kandang-kandang ayam semua sudah siap, kendalanya hanya pada pengadaan bibit. Pengadaan bibit di Bogor itu tidak mudah, dia memang harus antre, sebab yang pesan bibit ayam itu se-Indonesia,” papar Sekda Thamrin.

Pada kesempatan itu, Sekda juga mengakui dirinya sudah pernah sarankan kepada beberapa geuchik, kalau memang seandainya tidak mungkin lagi dikejar, maka minta kembali uangnya, nanti anggarkan kembali pada 2019 berapa sisa yang belum terealisasi.

Diakui Thamrin, pengadaan ayam KUB itu sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 12 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Gampong dalam kabupaten Abdya. “Pengadaan bibit ayam KUB itu salah satu pilihan dalam perbup. Kalau seandainya ada gampong yang tidak memilih pengadaan ayam KUB, itu juga tidak menjadi masalah,” tegasnya.

Terkait permasalahan itu, Sekda Thamrin mengeskan, pihaknya tetap akan menunggu hasil audit inspektorat yang akan menjadi rujukan bagi geuchik, apakah uang tersebut dikembalikan saja atau disertai denda. “Itu nanti tergantung pada inspektorat,” singkatnya.

Dari data yang didapatkan awak media ini, penyediaan ayam KUB tersebut diprogramkan oleh 96 gampong dengan berjumlah 237.737 ekor dengan harga perekor bibitnya mencapai Rp.12.000, jika dikalikan dengan 237.737 ekor maka anggaranya keseluruhannya mencapai 3 miliar.

Pembagian ayam KUB tersebut direncakan akan berikan masing-masing untuk Kecamatan Lembah Sabil sebanyak 34.478 ekor untuk 14 gampong, Kecamatan Manggeng 41.000 ekor untuk 17 gampong, 9 gampong di kecamatan Tangan-Tangan dengan jumlah 63.607 ekor, Kecamatan Setia 10.463 disalurkan untuk 9 gampong, Kecamatan Blangpidie 12.000 ekor untuk 8 gampong, 8 gampong di Kecamatan Susoh 12.610 ekor, Kecamatan Jeumpa 24.965 ekor untuk 6 gampong, Kecamatan Kuala Batee 20.280 ekor, dan Kecamatan Babahrot 18.374 ekor masing-masing untuk 9 dan 12 gampong.

Bibit ayam KUB itu diserahkan kepada keluarga fakir miskin, janda punya anak yatim khususnya warga yang tidak memiliki kemampuan secara ekonomi, tetapi memiliki bakat dan sangup beternak ayam.

Dipilihnya ayam KUB sebagai upaya memberdayakan masyarakat karena dianggap dari segi ekonomi ayam jenis ini lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan beternak ayam jenis biasa. Ayam jenis itu disebut-sebut merupakan hasil seleksi genetik memiliki keunggulan bertelur hingga mencapai 160-180 butir/ekor/tahun.

Kemudian masa mengeram berkurang hingga 10 persen, sehingga ayam cepat kembali bertelur. Program pemberdayaan ekonomi ini milik pemerintah yang dibebankan kepada gampong-gampong untuk dibuat program dengan sumber anggaran dari dana desa. (TM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *